Laman

Senin, Oktober 15, 2018

Kata Mereka : Apa Yang Engkau Cari, Wahai Working Mom?

It's important for women to work. They need to keep their independence, to keep earning and being challenged. - Tamara Mellon


...setiap keluarga yang pihak ibu-nya bekerja punya solusi masing-masing soal anak yes? Nggak berarti begitu ibu bekerja maka anak jadi auto-terbengkalai.
Di satu malam yang selo, karena Lilo sudah tidur dan tidak ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan, 'jalan-jalan'-lah saya dari satu akun ke akun Instagram lain, dan berhenti di akun tirto.id, pas di infografik yang berisi tentang perempuan bekerja.

Infografiknya sih biasa, yang rame ya justru komentar-komentarnya.

Kalau dipikir-pikir,  akun IG tirto.id ini sama lho, kayak akun lambe-lambean. Komentarnya lebih seru dibandingkan posting foto dan caption-nya. Netyzen julid maha menghibur memang. HAHA.

Saya sadar sepenuhnya bahwa working mom dan stay at home mom adalah sebuah topik klise yang sudah lama diperdebatkan. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri, di mana ada forum para Bunda, tentu akan ada mommywar dengan topik (salah satunya) working mom vs stay at home mom

Apa penyebab 'perang' ini? Karena adanya gender roles tradisional, di mana laki-laki adalah breadwinner, pihak yang mencari nafkah dan penghasilan yang diperolehnya untuk menghidupi keluarga, sementara perempuan adalah pihak yang mengurus rumah tangga dan mendidik anak. 

Gender roles ini sebenarnya konstruksi sosial doang sih. Sayangnya masih banyak orang yang nggak sadar dan menganggapnya sebagai satu 'kodrat' yang nggak bisa diganggu gugat. Jadinya, working mom kemudian di-judge sosial sebagai perempuan yang menyalahi 'kodrat'. Berantem deh jadinya. Ya iya, manalah ada orang yang suka di-judge negatif.

Padahal, siapa yang kerja, siapa yang ngurus keluarga, ya gimana kesepakatan internal aja kali nggak?

Saya ada di kubu mana? Hm.

Kalau dipikir-pikir, saya adalah seorang perempuan setengah working mom dan setengah stay at home mom. Semacam amfibi gitu deh. Jadi saya netral yak, jangan digebukin. :))

Balik lagi, karena selo, saya pun menelusuri komen demi komen di posting tersebut. Syukurnya, sudah banyak (setidaknya di komentar-komentarnya) yang menyadari bahwa gender role tradisional untuk urusan nafkah-menafkahi itu cair, bisa didekonstruksi dan disesuaikan dengan kondisi.

Opini mereka yang kontra working mom kebanyakan klasik juga, dan nggak jauh-jauh dari gender roles tradisional. Namun ada satu komentar yang menarik, intinya kurang lebih mempertanyakan apa yang dicari working mom.

Apa yang engkau cari wahai, working mom? Tugasmu adalah di rumah, mendidik anak. Begitulah kura-kura.

Di sini, saya menempatkan diri sebagai working mom ya. Jadi apa alasan saya tetap bekerja? Apakah takhta dan permata? Eaak.

Ada beberapa poin yang telah saya dan partner bicarakan sebelum menikah soal saya dan pekerjaan saya, yang ujung-ujungnya membuat kami saling menyepakati bahwa saya tetap kerja, even setelah punya anak, yaitu :

Men-support kebutuhan keluarga secara finansial, apa lagiiii. Sesyungguhnya kami berdua tidaklah lahir dari trah Bakri. Butuh duit bok! Anyway, orang-orang yang kontra dengan working mom sering bilang, kalau penghasilan suami cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, walau tidak berlebih, sebaiknya istri di rumah untuk mengurus anak dan rumah tangga.

Well, penghasilan partner saya, kalau dibilang cukup ya cukup sih, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, cukup juga untuk bayar cicilan rumah. Aman kok, kalau dia doang yang bekerja.

Cuma saya dan partner membutuhkan keleluasaan finansial, sehingga kami bisa memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier plus bayar cicilan rumah, memenuhi kebutuhan masa depan dan nabung! Maruk? Mungkin.  tapi kan kalau kata Maslow, kebutuhan manusia itu bukan sekedar kebutuhan fisiologis, ye kan?

Saya, partner dan anak saya adalah individu-individu yang butuh dan harus berkembang sepenuh-penuhnya. Kami harus bukan sekedar bebas dari rasa lapar, tapi juga merasa aman dan happy plus bisa mengembangkan diri. Untuk itu kebutuhan-kebutuhan lain selain fisiologis ya harus dipenuhi dong ya?

Ahem, yang barusan saya jabarkan adalah alasan tidak egois saya, alias alasan demi kepentingan bersama.

Lalu semisal suami saya tajir melintir, apakah kemudian saya mau berhenti bekerja?

Ngng. Enggak. Karena saya punya alasan-alasan demi diri sendiri:

Saya mencintai pekerjaan saya.Terutama karena pekerjaan ini benar-benar bisa menjadi wadah saya untuk aktualisasi diri. Saya merasa potensi diri saya terus berkembang melalui pekerjaan saya, dengan berbagai macam tantangannya : keharusan untuk update perkembangan ilmu pengetahuan membuat saya banyak membaca dan cari tahu, keharusan untuk penelitian menajamkan kemampuan analisis saya, keharusan menghadapi manusia mengasah kemampun komunikasi interpersonal dan memahami orang lain, kewajiban berkarya membuat saya terus kreatif, kewajiban untuk mengabdikan ilmu untuk kepentingan masyarakat membuat saya mampu memahami masalah plus menajamkan jiwa kemanusiaan dan sosial saya, and the list goes on and on, and on.

Egois amat sik, demi aktualisasi diri sampai rela ninggalin anak.

Eh, jangan salah. Karena kebutuhan aktualisasi diri tersebut dipenuhi akibatnya nggak egois kok, yakni :

Kewarasan saya tetap terjaga.  Jadi, saya pernah ada dalam kondisi sakit dan harus terapi penyembuhan selama 6 bulan. Saya nggak bisa kerja. Apa yang terjadi? Saya kok ya malah sering sakit kepala, mudah tersinggung, mudah marah, susah tidur, susah bangun tidur dan kena eksim. Plus, ini yang parah, keinginan untuk menyakiti diri sendiri sangat besar.

Sungguhlah itu ciri-ciri stress. Dan memang setelah dicek, saya stress karena merasa tidak berguna.

Yang pertama, jelas karena tidak punya penghasilan sehingga tergantung finansial pada orang lain (keluarga), walau pun orang yang saya 'gantungi' nggak keberatan, tapi ya tetep aja sih susah menghilangkan rasa bersalah. Sudah dewasa masih ngerepotin.

Yang kedua, saya jadi minder karena ngerasa bodoh, ketinggalan jauh dari rekan-rekan sejawat, baik dari sisi skill, informasi mau pun pengetahuan. Pernah nih, dalam kondisi nggak bekerja, saya ketemuan dengan rekan-rekan sejawat dan mereka berdiskusi, saya nggak bisa ngimbangin. Mereka bergosip, saya nggak bisa nimbrung. Mau nangis.

Selain itu, saya tetap 'waras' gegara bekerja, karenaaa.... bekerja adalah me-time saya! Jadi ibu 24/7 selama bertahun-tahun itu bukan pekerjaan yang mudah. It's a tough job. The toughest job. Bok jauh lebih ringan kerja di kantor dibandingkan dengan jadi ibu. So, me-time adalah salah satu cara supaya buibuk nggak terlalu spanneng.

Saya selalu menganggap tugas mengajar di kantor adalah.. me time. Jadi selain untuk menunaikan tugas, saya pun bisa rehat sejenak dari ke-hectic-an jadi ibu. Sekali menyelam minum latte.  Kerasa banget kok, di saat saya harus full dan intensif bareng anak saya, saya jadi cepat spanneng, sementara seusai saya pulang mengajar, mau capek kayak gimana, saya emosi saya nggak cepat tersulut.

Saya rasa, kalau saya jadi stay at home mom, saya bakal kembali stress plus jadi spanneng-an. Sementara bagi saya, ibu yang baik adalah ibu yang waras, dan kalau saya nekad resign, bisa-bisa saya malah jadi ibu yang self-destructive atau lebih gawat lagi, merusak anak saya. No. No way. 

BTW, saya sempat sih sharing topik dari working mom menjadi stay at home mom, yang mancing curhat buibuk. Kebanyakan bilang, kalau sudah terbiasa kerja kemudian harus tinggal di rumah, jadinya gampang senewenan dan merasa tertinggal. Ujung-ujungnya mereka jadi working at home mom, entah buka online shop, atau ikut MLM.

Eh, tapi setiap ibu itu beda-beda yak? Ada juga sih ibu yang bisa zen menjadi stay at home mom. Kebetulan saya enggak, bahkan jadi working at home mom pun saya syulit.

Jadi bagi saya, walau pun alasan aktualisasi diri terdengar egois, tapi efeknya bisa membuat saya bahagia dan content, dan pengaruhnya, saya bisa jadi ibu yang lebih baik. :)

LALUUUU.... gimana anak saya saat saya bekerja?

Untuk kasus saya, kebetulan pekerjaan saya tidak seketat bekerja di bank yang 9 to 5. Dan partner saya pun wiraswasta. Jadi kami bisa bagi-bagi waktu dalam bekerja. Saat saya bekerja, maka dialah yang bersama anak saya, begitu pula sebaliknya.

Saya rasa setiap keluarga yang pihak ibu-nya bekerja punya solusi masing-masing soal anak yes? Nggak berarti begitu ibu bekerja maka anak jadi auto-terbengkalai. Ada yang menititpkannya pada orangtua/mertua. Ada yang mendaftarkannya ke daycare, ada yang meng-hire pengasuh khusus anak.

Semuanya ada positif dan negatifnya.

Biar fair, ini saya jabarkan positif dan negatifnya mengasuh anak sendiri walau pun bekerja.

Positifnya, yaaa, klise lah ya, saya bisa mendidik anak tepat dengan cara yang saya mau, hubungan batin saya dan anak dekat.

Nah, negatifnya jarang dibahas. Padahal cukup pelique juga.

Saya pribadi sebenarnya agak sedih karena kurang waktu untuk melakukan hobi. Hobi saya banyak. Saya juga suka ikut workshop yang berhubungan dengan craft. Pengin gitu ikutan workshop bikin jewelry kek, atau malem-malem ngegambar serius. Tapi waktunya nggak ada. Saya kerja, saat nggak kerja ya bersama anak. Saat malem, capek mau ngapa-ngapain juga. HAHASIAL.

Lalu capek, bosqu. Niat mau mendidik anak ala-ala Montessori dan segala metode apalah-apalah itu nggak selalu tereksekusi karena emaknya lelah.

Oh iya, balik lagi ke posting di tirto.id. Tau nggak sihhh, setelah dirunut-runut berbalas komentar di posting itu ternyataaa.... mereka-mereka yang kontra perempuan bekerja setelah punya anak itu.... belum kewong. HALAH! Bawel aja pade lu!