Laman

Selasa, Januari 07, 2014

Antara Botol dan Rezeki.

Novel solo ke-empat saya, Pre Wedding Rush baru terbit bersama stiletto book. Tungguin February, karena bakal banyak giveaway dan kuis Pre Wedding Rush  Detil boleh lho dilihat di : http://sepatumerah.blogspot.com/2014/01/anak-ke-4-saya-pre-wedding-rush.html, Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda. *alah* 

Charity never made poor, stealing never made rich, and wealth never made wise. — English Proverb 
Setiap malam sebelum tidur, saya selalu membawa sebuah botol minuman berukuran 1,5 liter ke kamar, ya jaga-jaga aja kalau terbangun malam hari dan haus. Nah semalam, saat sedang mengisi botol raksasa itu, mendadak ayah saya mengajak saya mengobrol. Sambil menekan tombol dispenser, saya menanggapi. Tanpa saya sadari, botol saya sudah penuh dan airnya meluap dan tumpah ke lantai. Deuh, ngepel malem-malem itu malesin deh. :-/

Anyway, kemudian tadi pagi, saat menunggu kamar mandi kosong *kesannya saya mandi di kamar mandi umum :))*, saya sempat membaca cerita kawan saya di e-mail, yang entah kenapa kemudian membahas kenapa orang suka mengambil hak/rezeki orang lain. Bukan topik yang bagus untuk memulai hari dengan mood yang bagus sih. 

Dan mungkin memang kamar mandi adalah sumber segala inspirasi, nggak tau gimana caranya, selama mandi, kok ya saya memikirkan tentang orang yang mengambil rezeki orang lain dengan botol air minum.

Lucu, karena saya berpikir, mungkin rezeki setiap orang itu sudah ada 'botol'nya sendiri. Jadi yang dia dapat ya akan sesuai dengan ukuran 'botol'nya sendiri; selama 'botol' tersebut belum penuh, maka rezeki akan terus mengalir ke dalamnya.

Supaya botol tersebut terus terisi gimana? Ya orang tersebut harus mengeluarkan isi botol yang telah ada sebelumnya. Caranya? Berbagi. Isi botol nggak akan pernah habis jika orang tersebut terus memberi; ya karena jadinya akan ada ruang kosong untuk tempat rezeki baru.

Seseorang juga nggak akan bisa memaksa rezeki masuk ke dalam botol sampai melewati kapasitasnya, pasti bakal 'tumpah'. Jadi, ketika ada orang berpikir bahwa ia bakal berkelimpahan kalau maksa terus-menerus memasukkan rezeki ke dalam botolnya (misalnya dengan ngambil rezeki orang lain), ya dia harus kecewa. 

Analogi ini mungkin benar, mungkin enggak sih. Nggak tau juga. Tapi ada beberapa kejadian kecil yang pernah terjadi dalam kehidupan saya yang pada akhirnya membuat saya percaya soal botol-botolan ini.




Yang pertama, kalau mengisi kredit pulsa telpon seluler dari dulu seringnya saya menggunakan layanan dari ATM. Nah satu hari mendadak ada tulisan 'Maaf, transaksi ini tidak bisa dilakukan sekarang' ketika saya sedang mengisi kredit pulsa di ATM satu bank. Ya sudahlah ya, akhirnya saya keluarkan kartu ATM dan berlalu. Baru beberapa langkah, saya mendengar bunyi SMS masuk di handphone saya, ketika saya lihat, pesan notifikasi yang mengatakan bahwa saya telah berhasil mengisi pulsa sebesar Rp.100.000,-

Lho kok? eL Ha O Ka O Ka?

Katanya gagal.

Akhirnya saya kembali masuk ke dalam ATM untuk mengecek saldo. Bok, saldonya tetap. Sambil berseri-seri saya keluar dari ATM. "Rezeki nih!' Pikir saya.

Tau nggak apa yang terjadi, seminggu kemudian, saya kehilangan uang sepuluh kali lipat. Duitnya baru saya ambil dari ATM untuk membayar sesuatu secara tunai, saya masukan ke dalam amplop, lalu..... saya kecopetan.

-___-

Nyesek nggak sih?

Yang kedua, saya ini pelupa, bahkan pernah pula lupa membayar makanan dari restoran. Ini serius, dan saya nggak sengaja. Asli lupa. Nah di salah satu perkunjungan di sebuah resto saya melakukan kesalahan itu; kebetulan resto tersebut sedang penuh-penuhnya, jadi nggak ada yang mengingatkan saya saat saya melenggang keluar tanpa membayar. Saya baru ingat ketika di tempat parkir, baru bergerak mundur dan mobil hanya setengah badan keluar. Dalam kondisi gitu kan ya bisa banget untuk masuk kembali lalu membayar. Namun alih-alih melakukannya, saya ngeloyor pergi.

Nggak lama setelah itu, saya yang waktu itu baru belajar jualan online, ketipu. Saya dengan gobloknya percaya ketika calon pembeli mengaku telah membayar; tanpa mengecek saldo, saya kirim barangnya. Ternyata dese belum bayar. Lucunya, jumlah uang tersebut pas plek dengan jumlah makanan yang nggak saya bayar. :))

Ada beberapa kasus kecurangan yang sebenarnya nggak sengaja, tapi setelah sadar saya pura-pura nggak tau. Biasanya 'akibatnya' nggak selalu dengan kehilangan uang. Ada yang tiba-tiba kecelakaan sehingga harus dirawatlah. Ada yang mobil keserempetlah sehingga harus masuk bengkel, sakit, dan lain-lain.

Hal itu yang kemudian membuat saya percaya dan sangat-sangat-sangat menghindari mengambil hak/rezekinya orang lain. Mungkin bakal ada orang yang bilang bahwa apa yang saya alami hanyalah kebetulan belaka, tapi nggak tau juga ya, soalnya selalu berulang, jadi saya yakin itu bukan sekedar kebetulan saja.

Tapi gara-gara mikir begini saya mandinya jadi lama banget. Lalu nyaris telat ke kantor :))

Kalau kamu? Pernah ngalamin hal yang sama? Nah pertanyaan terakhir nih, ada berapa banyak kata botol dan rezeki dalam posting ini? :D

Follow my blog with Bloglovin

4 komentar:

Beby mengatakan...

Pernah ngalamin sih, Mbak. Waktu SMA, dikasih uang buat bayar apa gitu 60rb, tapi ada nyelip selembar uang 20rb. Jadi totalnya 80rb. Mama ngga ada ngomong, so ini emang ngga sengaja beliau salah ngitung.

Seneng donk, soalnya kan bisa buat jajan. Heheh.. Aku pake deh duit 20rb itu, trus beberapa hari kemudian uang ku jatuh 50rb waktu praktek olahraga di lapangan. :(

Kalo ngambil hak orang lain, mengenai masalah beasiswa nih, beberapa teman ku yang sangat mampu ikutan ngotot ngurus, trus duitnya mereka pake buat foya-foya. Beli baju, hp, sepatu.. Tapi satu per satu dari mereka mulai ketimpa masalah. Ada yang abangnya masuk rumah sakit selama sebulan, ditipu pas belanja online shop, ditipu sama ibu kost, dll.

Dari situ aku percaya kalo rejeki orang kita ambil, kita bakalan kehilangan rejeki yang lebih besar di masa depan, mbak..

Beby mengatakan...

Ohya, kata 'botol' ada 16 buah dan kata 'rezeki' ada 12 buah.
CMIIW :p

sepatumerah mengatakan...

@beby :

Iya, kalo udah ngalamin gitu, mau ga percaya gimana ya?

Bahahaha, diitungin beneraaan :D

zulham mengatakan...

Setuju mbak.

Sama saja dengan filosofi bagaimana otak kita ini kita anggap sebagai ruang kosong, yang setiap hari kita jejali dengan beragam informasi dan itu berjuta juta informasi yang kita terima.

Terkadang, jika jenuh menghampiri, maka fikiran akan merasa lelah. Pada saat itu kita rasakan bahwa ruangan kita penuh sesak.

Berbagi adalah salah satu cara untuk mengosongkan ruang itu. Itu juga merupakan kekuatan dari Sedekah, entah itu sedekah ilmu atau sedekah uang.

Berbagi itu indah.