Laman

Kamis, Januari 02, 2014

Seksis Nggak Seksi

Sexism is a social disease.  
Author Unknown

"Gila, jadi cowok kok mukul, pake rok aja sana!"
"Iya, nggak banget, pake lipstik aja lah, cowok kayak gitu! Nggak gentle."

Itu adalah celetukan perempuan-perempuan yang tidak sengaja tertangkap oleh telinga. Waktu itu saya sedang makan siang sendirian, meja di sebelah saya berisi perempuan-perempuan dua puluhan tahun. Awalnya saya nggak tau sih, mereka lagi membahas apa; saya terlalu asyik makan dan Twitteram (Iya kebiasaan buruk, jangan ditiru.:P ), cuma gara-gara satu kalimat yang disebutkan agak keras, saya jadi meletakkan handphone saya dan... nguping. :D

Dari dulu saya nggak suka banget dengan kalimat begitu, dan kalimat-kalimat sejenis. Ya, 'pake rok' dan 'pake lipstik' itu tentu saja merujuk ke sosok perempuan. Kesan yang saya dapat dari kalimat mereka adalah, kalau jadi perempuan pasti dan boleh suka memukul (serta melakukan kekerasan lain terhadap sesama).

Ih. Saya perempuan. Memukul kecoak saja nggak pernah soalnya saya takut kecoak #eh

Saya jadi teringat hal seperti ini pernah dibahas oleh @purplerebel di Twitter, dulu banget. Bahwasanya bahasa yang digunakan itu seksis; alias mengandung diskriminasi dan prasangka buruk terhadap jender tertentu. Biasanya sih sikap-sikap seksis ini berakar dari stereotip peran jender yang ada di masyarakat sih; salah satu sikap seksis ini adalah menganggap ada satu jender yang lebih superior dari jender yang lain, contoh-contoh klasiknya seperti laki-laki pemimpin, perempuan di rumah saja, laki-laki tulang punggung keluarga, perempuan yang menghabiskan uang hasil kerja keras laki-laki, dan lain sebagainya.

Sayangnya banyak yang 'mewajarkan' sikap-sikap seksis ini, Bahkan untuk sikap seksis yang menyudutkan perempuan pun, alih-alih ditolak oleh perempuan, eh malah diamini. Ya itu salah satu buktinya, yang ngomong 'laki kok mukul, pake rok/lipstik aja' adalah perempuan, lho.

Di satu hari yang iseng di bulan Desember tahun lalu, saya sempat melemparkan satu pertanyaan di Twitter, saya bilang kurang lebih : kamu nyadar nggak apa yang salah dari 'Laki kok mukul, pake rok/lipstik aja deh!', semacam iseng-iseng pengin tahu apakah ada yang aware sama bahasa seksis ini. Untungnya ada beberapa orang yang berpikiran sama, mereka ramai-ramai bilang kalimat tersebut 'salah' karena menyudutkan perempuan. TAPI masih ada juga yang merasa nggak ada yang salah dengannya. Atutedih. :((



 Gara-gara kasus nguping tersebut saya jadi mengobrol dan browsing-browsing tentang seksisme, dan saya menemukan ternyata ada beberapa jenis seksisme, yang kemudian membuat saya waswas, jangan-jangan selama ini saya pernah bersikap seksis? Hm.

 (1) Old fashioned Sexism.
Yah, ini tipe-tipe seksisme yang sekuno kepercayaan bahwa satu jender secara harafiah lebih superior dari jender yang lain.

Disebut old fashioned ya karena memang sudah kuno. Pernyataan-pernyataan seksis seperti ini kayaknya sudah sering saya dengar sejak masih kecil deh. Hari gini kalau pernyataan-pernyataan seperti itu disebut tentu saja bakal mengundang protes, jelas soalnya offensive banget; dan sudah pasti banyak orang yang menolaknya. Ya tapi, bukan berarti sudah nggak ada yang percaya sih ya. :)

Misalnya :
  • Laki-laki itu lebih pinter dari perempuan
  • Yang jadi pemimpin harusnya laki-laki, soalnya perempuan itu suka berpikir nggak logis. 
  • Perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya harus ke dapur juga
  • Perempuan itu konco wingking, teman di belakang / pengikut.
  • Perempuan itu 3M, Macak, Masak dan Manak (Berdandan, masak dan beranak)
  • Wilayah kekuasaan perempuan itu di 3Ur, Sumur, Kasur, Dapur.
Ada yang bisa melengkapi? ;-)

(2) Modern Sexism
Modern sexism ini muncul dari anggapan bahwa laki-laki dan perempuan sudah setara dan sejajar dalam masyarakat; biasanya sih mereka melihat dari kenyataan bahwa perempuan sekarang sudah melakukan banyak hal luar 3 M, dan menempati wilayah kekuasaan di luar 3Ur. Jadi muncullah pendapat bahwa seksism itu sudah bukan lagi masalah dalam masyarakat, hal-hal yang dirancang untuk memudahkan perempuan sudah tidak diperlukan lagi dan perempuan yang masih mengeluhkan soal seksism itu reseh.

Modern sexism ini mengabaikan fakta-fakta bahwa untuk beberapa kasus diskriminasi gender itu masih ada, semisal gaji untuk perempuan yang lebih rendah dari laki-laki, atau jumlah perempuan yang mewakili perempuan di ranah politik lebih sedikit dari laki-laki. Dan karena diledek-ledek 'udah emansipasi, masih ribut aja', orang-orang yang memperjuangkan masalah ini, lama-lama akan dianggap jadi pengganggu yang riwil. Disuruh diem.

Ada 3 jenis sexism lagi sih, ambivalent. hostile dan benevolent sebagai kategori masing-masing, tapi kalau dari saya baca-baca lagi sih, *kayaknya* ambivalent masuk ke dalam modern sexism, sementara yang hostile dan benevolent itu komponennya ambivalent sexism.

Wopo kui, ambivalent, hostile dan benevolent sexism? Ok, lanjut!

(3) Ambivalent Sexism
Ada dua nih, tipe ambivalent sexism , yang satu hostile, yang satu benevolent. Kalau yang hostile itu berdasarkan 'kebencian', dianggapnya bahwa perempuan itu mahluk cengeng yang suka mengontrol laki-laki. Perempuan sumber masalah (laki-laki).

Contoh hostile sexism 
  • Ah perempuan sih, tinggal nangis/merengek untuk ngedapetin apa yang dia mau. (atau perempuan tinggal memanfaatkan *keseksian* tubuh untuk dapetin yang dia mau)
  • Perempuan nggak menghargai pengorbanan yang dilakukan laki-laki.
  • Para feminis itu kan geng patah hati, makanya benci cowok dan semuanya lesbian.
  • Perempuan yang masih ribut soal kesetaraan gender dan inner beauty pasti jelek (kalimat menyakitkan mereka yang peduli masalah perempuan ini pernah muncul di timeline-nya salah seorang pakar percintaan. Pfft, pakar.
  • 'Perempuan sih sibuk ribut soal emansipasi, mau nggak disuruh genjot becak jadi buruh bangunan?.' (yang mana nggak nyambung blas. Ngapain genjot becak kalau perempuan (dan laki-laki) yang bersangkutan kebetulan diberi kesempatan memiliki ilmu dan skill di bidang lain? Anyway, laki yang ngomong gitu mau nggak disuruh genjot becak? Hihi.).
Sementara benevolent sexism itu, arahnya kepada anggapan bahwa perempuan memiliki kemurnian dan moral yang lebih baik dari kaum laki-laki, sehingga mereka harus dilindungi dan dijaga dengan baik. Semacam ideologi a knight in shining armor. Ih, kayaknya sikap ini justru romantis ya? Apa bahayanya benevolent sexism
Benevolent itu mudah diterima karena bersikap simpatik nan manis, ujungnya bakal memelihara diskriminasi. 
Perempuan adalah mahluk lemah yang harus dilindungi oleh laki-laki, nggak boleh bekerja berat, harus selalu dibantu, harus disupport finansial oleh laki-laki, pada akhirnya bakal membuat perempuan tidak sebagai manusia mandiri seutuhnya, tapi sebagai sosok yang tergantung pada sosok lain.

Nilai-nilai tentang peran jender disampaikan dengan lembut : 'Perempuan itu mahluk mulia, karena darinya keturunan dilahirkan dididik, oleh karena itu cuma perempuanlah yang bisa mendidik generasi penerus' itu tentu bisa lebih diterima daripada 'perempuan sih wilayah kekuasaannya 3M dan 3Ur aja deh!' - ya pada akhirnya karena itu perempuan mengamini kemudian memilih jalan hidup demikian --- bukan murni atas keinginannya, tapi karena terpengaruh sebutan 'perempuan mulia'.
Kalau hostile sexism ini bisa mengundang kerusuhan, tapi benevolent sexism ini bisa dengan lembut memasukkan seperangkat nilai tentang perempuan sejati dan perempuan nggak sejati. Kalau dia tidak lembut, tidak keibuan, terlalu independent, maka akan dianggap sebagai perempuan yang tidak diminati. Ya diskriminasi lagi ujungnya.

...

Sejujurnya, kalau saya sendiri sih suka bersikap seksis juga, tipe benevolent. Kadang *kadang lho, swear!* sebagai perempuan saya ingin diperlakukan istimewa.  *tersipu*

Anyway, mungkin buat yang membaca tipe-tipe seksisme di atas jadi mikir 'diperlakukan buruk nggak mau, diperlakukan baik nggak mau. Perempuan memang susah dimengerti.', ya kaan?

Ya pada akhirnya saya berpikir, bahwa dalam masyarakat ini perlakuan seseorang dibeda-bedakan berdasarkan gender, padahal perempuan dan laki-laki adalah sama-sama manusia. Idealnya sih, ketika memperlakukan seseorang, hilangkan masalah gender, perlakukan (dengan baik, non violent), disesuaikan dengan kondisi dan kapasitas.

Contoh keseharian dan super-sederhananya sih, soal 'perlakuan istimewa' ala-ala membawakan barang dan memberi tempat duduk. Ya, bawakanlah barang/berilah tempat duduk pada mereka yang membutuhkan, tanpa peduli jender.

BTW,

"Gila, jadi cowok kok mukul, pake rok aja sana!"
"Iya, nggak banget, pake lipstik aja lah, cowok kayak gitu! Nggak gentle." 
Kira-kira masuk ke jenis kalimat sexism yang mana nih?
 

2 komentar:

Beby mengatakan...

Menurut ku masuk di benevolent sexism, Mbak.. Bener ngga sih? Heheh.. Soalnya tema kali ini aku agak-agak ngga nalar nih dan perlu konsentrasi bacanya :p

Dan aku juga masih bersikap seksis tanpa aku sadari :( Yang benevolent itu loh.. Pengennya selalu dibaikin, disayang-sayang. Kadang jadi bikin agak ngelunjak. Huhuhu..

sepatumerah mengatakan...

@beby : hostile, Beb. Haha, tos, sama dong, kita benevolent :))