Laman

Sabtu, Juni 06, 2015

[Traveling] Rewriting 'Anda Traveler Pemula'


Travel becomes a strategy for accumulating photographs.- Susan Sontag
….kesannya sang penulis sedang bilang : aing leuwih hebat ti maneh, naon siah?
Kemarin timeline Twitter saya gaduh. Banyak cuitan menyebut-nyebut traveler pemula. Kebanyakan mayah-mayah. walau nggak sedikit juga yang bikin tweet-tweet plesetan.

Ya namanya juga pengguna Twitter ya, masa sih ada hal yang sedang 'dirame-ramein' jiwa detektif (baca : kepo) kita nggak bangkit?

Akhirnya setelah menelusuri beberapa tweet saya menemukan sumber keributannya! Sebuah artikel yang ada di Reader's Digest Indonesia; judulnya : 'Anda Adalah Traveler Pemula, Jika...', isinya ada delapan poin, lengkapnya bisa dibaca di sini.

Saya pribadi nggak kesinggung sih, membaca artikel tersebut, entahlah, mungkin karena nggak pernah merasa diri traveler juga ya? Dan memang saya juga jarang melakukan poin-poin yang disebut dalam artikel tersebut.

Tapi saya bisa memahami mengapa orang-orang bereaksi sedemikian rupa. Tone dan manner tulisannya yang memberi kesan superior. Walaupun tak tertulis, tapi kesannya sang penulis sedang bilang : aing leuwih hebat ti maneh, naon siah? (Artinya? Coba lihat di kamus Sunda ini. Haha)

Tone dan manner kayak gitu bikin yang baca merasa direndahkan. Dan siapa juga coba yang suka direndahkan. Bukan di soal traveling aja, di soal macam-macam, contoh : soal diet-dietan, soal lari, soal yoga, soal fotografi dan soal-soal lainnya. Saya sering banget lihat orang berseteru gara-gara ada pernyataan yang secara tersirat menyatakan 'Amatir lo! Bego lo!' :))

Anyway, baru tadi banget saya baca ulang artikelnya, tetap sih, saya nggak merasa kesinggung; tapi tiba-tiba kepikir, seandainya pemilihan katanya nggak gitu banget, mungkin reaksi orang nggak segitunya.

Kemudian, saya terdorong untuk menulis ulang artikel ini. :))

Anda Smart (Social Media) Traveler, Jika...

 (1) Tidak mengabaikan aturan menonaktifkan ponsel selama penerbangan saat memotret sayap pesawat terbang...

Memang pemandangan yang Anda lihat melalui jendela pesawat itu luar biasa, apa lagi jika Anda melakukan penerbangan saat sunrise atau sunset. Yang seperti itu memang HARUS diabadikan, tapi jangan abaikan aturan menonaktifkan ponsel selama penerbangan, yes? Demi keselamatan bersama. Atau motretnya pakai digcam saku saja lah.

(2) Sensitif situasi saat hendak hendak memotret 'temperatur saat ini'.

Sebenarnya bukan cuma kalau mau memotret 'temperatur saat ini' saja sih, tapi saat memotret apa pun. Jangan sampai ketika memotret, ada orang-orang yang tersinggung. Semisal, lagi ibadah Waisak di Borobudur, kamu dengan enaknya menyorongkan kamera atau ponselmu dengan jarak super dekat di depan hidung bara biksu. Bahkan, kalau pun tidak ada event khusus, biasakan meminta izin saat hendak memotret manusia. Selain agar semua sama-sama nyaman, tapi ada jugalah tempat-tempat yang nggak boleh memotret, atau kalau memotret bayar. Nggak lucu kalau Anda sudah foya-foya jeprat sana jepret sini, tau-tau dapat tagihan 100.000 per foto.Hayolooh.

(3) Memerhatikan kondisi saat mencicipi sesuatu yang bersifat lokal...

Misal, perhatikan kebersihannya, atau kamu tahu kamu punya alergi seafood, ya jangan nekad, atas nama harus icip-icip sesuatu yang bersifat lokal (dan memotretnya supaya bisa di-upload di Instagram). Nggal lucu gara-gara itu lalu Anda jadi sakit. Sakit dalam perjalanan itu merugikan. Kalau sendirian ya sengsara, kalau barengan ya ngerepotin orang lain.

(4) Tidak mengupload foto kamar hotel saat anda masih menginap di dalamnya.

Ya demi keamanan juga sih. Meng-upload hal seperti itu, atau memberitahu dengan check in di Path, ya sama saja kamu mengumumkan kamu sedang di mana secara spesifik. Lebih bahaya lagi kalau kamu pakai bilang  'Sendirian nih di hotel ABCD kamar 1234. Hvft!' Kita nggak tahu orang-orang yang melihat update di sosial media Anda. Jaga-jaga ajalah.

(5) Menyesuaikan budget, kondisi medan dan lama perjalanan dalam memilih moda transportasi.

Misal, dari Jayapura, Anda hendak ke Sorong dan meneruskan ke Raja Ampat, pesawat hanya ada seminggu sekali tapi mahal, ada pilihan lain, yaitu naik kapal dengan lama perjalanan lima hari, padahal cuti Anda seminggu. Nah pertimbangkan lagi saja, sesuaikan dengan kemampuan dan kesempatan. Dan pilih lagi, mana yang sekiranya bisa memberikan pengalaman lebih seru untuk diceritakan di media sosial Anda.

Btw, mau ke Raja Ampat, ngapain mendarat di Jayapura sih? *toyor*:)))

(6) Memilih ponsel dengan kamera ber-megapixel besar atau pocket digital camera.

Kalau travel-nya atas nama liburan, sumpah lebih praktis dua benda tersebut dibandingkan dengan bawa iPad, tablet apalagi DSLR. Nggak ribet gembolannya, nggak menuh-menuhin dan berat-beratin tas. Plus nggak bikin kamu ketar-ketir takut benda-benda itu hilang. Jangan lupa bawa powerbank ya!

(7) Memberi caption yang menarik pada foto makanan yang Anda makan.

Berlaku untuk segala foto sih. Karena sebenarnya nggak masalah foto apa pun, sesering apa pun, selama Anda bisa memberi caption yang menarik, ya bakal senang-senang sajalah orang yang melihatnya. Semisal, Anda memotret nasi goreng, akan lebih menarik jika anda menceritakan lokasi, harga atau peristiwa-peristiwa yang ada di balik nasi goreng tersebut, dibandingkan Anda hanya menulis 'Nasi Goreng'.

Foto nasi goreng, dan caption 'nasi goreng' beneran bakal bikin orang mikir 'Aing oge nyaho eta nasi goreng!' (Coba lihat lagi kamus Sunda ini)  :)))

(8) Menggunakan tongsis saat hendak selfie.

Iya, usahakan background terlihat kalau selfie, karena kalau yang terlihat cuma muka saja, bakal nggak kelihatan kamu sedang di mana. Masa selfie traveling sama selfie untuk #fotd sama-sama aja sih?

(TAMBAHAN) (9) Perhatikan keselamatan saat anda melakukan selfie atau difoto.
Iya, jangan hanya karena ingin terlihat wow di media sosial, Anda nekad berfoto di bibir tebing, atau di puncak air terjun. Ojo nggolek perkoro!


Gitulah. Songong-nya masih ada sih di tulisan ini, sok ngajarin, mengesankan yang nulis lebih jago, ya tapi terselubung. Iya, humble bragging itu memang ada seninya, dan semua itu cuma soal milih kata, milih tone and manner tulisan aja kok. *Edan, ini mah songong beneran, sok lebih baik dari penulis artikel itu* :)))

Anyway, sesungguhnya saya berterima kasih pada penulis artikel traveler pemula itu, soalnya karena beliau saya jadi update blog. :))

Reader's Digest nggak mau mempekerjakan saya nih? :D




5 komentar:

Rahne Putri mengatakan...

Nah ini niiiiih aku baru sukaa.
Haha, gemes banget baca tulisan dia, aku juga ga pernah memproklamirkan diri as traveler tapi emang suka jalan jalan merasa terhakimi :))). Pun, aku baca tulisannya itu kaya pingin witty tapi engga, jadi kaya bitter aja gitu.

RD... hire mbak Okke doooong :)))

sepatumerah mengatakan...

Rahne : Ah, itu, tulisannya judging dan menyudutkan. Dari tadi gue kehilangan istilah itu :))

Hahaha...

Maya Notodisurjo mengatakan...

Gw masih gagal paham sih kenapa oamg2 ngamuk. Tulisannya biasa aja, menurut gw. Macam Hipwee :-)))

sepatumerah mengatakan...

Aktivitas jalan2 ini udah ky agama bagi penganutnya, kemudian diinternalisasi. Jadi kalo aktivitasnya diledek, orgnya ngerasa diledek. Sama kayak olahraga lari2an, yoga, jokowi-prabowo. Loe ga kesinggung, ya karena lo bukan penganutnya :))

Ninda mengatakan...

AWW... suka foto makanan dan lebih suka foto kaki juga atau fotofoto yang jarang kelihatan muka... tapi baca RDnya biasa aja sik... nggak kesinggung hehehe... namanya orang jalanjalan atau nemu hal-hal yang aneh dan menarik untuk difoto dan disampaikan ya sukasuka orangnya selama nggak checkin realtime aja.. ini mah bahaya (curcol pelaku checkin nggak realtime yang suka diprotes orang dikiranya bisa diajak ketemuan padahal udah pulang sayanya) :D