Laman

Rabu, Juli 01, 2015

[Keseharian] (Ke)Takut(an) Akan Tuhan

“Fear has to be the opposite of God because it is the opposite of love. Fear is selfish, needy and focused on you. It makes no sense for God to want you in fear about Him or your life.  It comes down to this: either God wants you to live in fear of Him, always afraid you aren’t good enough and focused on yourself, or He wants you to live in love, knowing you are safe, and focused on loving other people. Which feels more accurate to you?”  ― Kimberly Giles, Choosing Clarity: The Path to Fearlessness
...jadi ketaatan itu karena diawasi dan takut kena hukuman, kalau nggak ada yang mengawasi bubar. Saya rasa akan berbeda kejadiannya jika ketaatan itu muncul karena kesadaran diri, '...gue pake helm soalnya kepala gue berharga.' Mau ada polisi, mau tidak, tetap saja pakai..
Beberapa waktu yang lalu, saat sedang mengantre dokter gigi, saya melihat sebuah tayangan religi di televisi, yang isinya kurang lebih tentang manusia zholim, yang kemudian mendapat hukuman sakit kulit parah. Well, sepertinya semua tayangan religi yang ada di TV inti ceritanya seperti ini semua kali ya? Yang membedakan cuma hukuman yang diterima oleh manusia-manusia antagonis saja; bisa kelelep, lumpuh, buta, terbakar, tidak bisa dikubur dan lain-lain.  Sementara sang tokoh protagonis yang cenderung naif hidup berbahagia.

Terus terang cara menyampaikan ajaran agama (apa pun) dengan 'menakut-nakuti' ini seperti ini tidak pernah gagal membuat saya mengernyit dan bertanya-tanya : apakah memang agar umat menaati perintah yang ada di agamanya harus diancam dengan kemarahan Tuhan? Apakah menganut agama itu harus dengan penuh ketakutan?

Saya kemudian menganalogikan 'aturan' agama ini bagaikan peraturan lalu lintas; misal perkara memakai helm. Bahwa memakai helm ini sebenarnya untuk keselamatan diri sendiri, karena aspal itu lebih keras daripada kepala manusia, Jendral. Namun dalam peraturan ini, kita semua tahu ada hukuman bila kita tidak menaatinya, yaitu kena tilang. Sejauh ini efektif, orang-orang memakai helm saat berkendara dengan roda dua, tentu saja karena takut harus membayar sejumlah uang saat ketangkep polisi lalu lintas. Tapi apa yang terjadi saat tidak ada polisi yang mengawasi? Helm dibuka. Beberapa kali saya melihat orang-orang yang saya kenal malas memakai helm karena 'cuma' mau pergi ke warung atau minimarket kompleks rumah. 'Ah dekat kok, nggak ada polisi' kata mereka. Duh, seolah-olah karena jaraknya dekat maka jalan akan berubah selembut peyeum.

Iya, jadi ketaatan itu karena diawasi dan takut kena hukuman, kalau nggak ada yang mengawasi bubar. Saya rasa akan berbeda kejadiannya jika ketaatan itu muncul karena kesadaran diri, gue pake helm soalnya kepala gue berharga. Mau ada polisi, mau tidak, tetap saja pakai.




Seperti layaknya manusia Twitter lain, yang merasa perlu mencuitkan pemikirannya di platform tersebut, maka saya pun mengemukakan opini tentang ketaatan dan ancaman di sana.

Kemudian seseorang dengan ID yang saya lupa bereaksi, yang intinya, di kitab sucinya ada ayat yang menyatakan bahwa takut akan Tuhan itu wajib dan harus ditaati. Manusia harus takut akan Tuhan.

Mendadak saya jadi tercenung. Firman yang menyatakan bahwa kita harus takut akan Tuhan itu sebenarnya tidak hanya ada di kitab sucinya, tapi ada di Alkitab juga, banyak pula. Gara-gara itu, dari kecil sampai remaja, saya memiliki konsep yang saling berkonflik di benak saya tentang Tuhan. Satu sisi, saya mendengar Tuhan adalah yang harus ditakuti (merujuk banyak ayat alkitab yang menyebutkan 'takut akan tuhan', salah satunya Pengkhotbah 12 : 13 'Akhir kata dari segala yang didengar adalah : Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang'). Selain sebagai yang harus ditakuti, saya pun menangkap bahwa Tuhan itu pemarah dan suka menghukum. Nggak nurut, hukum! Nggak nurut, celaka!

Namun di sisi lain, berdasarkan cerita-cerita alkitab, saya sekaligus diajarkan bahwa Tuhan itu sosok yang maha kasih, yang bisa dianggap Ayah, bisa pula dianggap sahabat.

Jadi yang benar yang mana?

Jujur saja kalau boleh memilih, saya memilih yang kedua, menganggap Tuhan adalah sahabat, karena saya nggak suka hidup dalam ketakutan, seperti di masa SMU, saya mempunya seorang guru Matematika yang killer abitch, hobi menghukum, suka marah, ngebanting vas bunga (Yang untungnya vasnya logam), nilai matematika dapat di bawah 70, sudah pasti disetrap. Setiap jam pelajarannya, saya mual-mual, tangan saya dingin. Cara mengajar yang mengerikan tersebut memang berhasil buat teman-teman lain, nilai matematika mereka jempol! Tapi semua itu gagal buat saya. Sama sekali nggak bikin saya mengerti matematika atau pun nilai saya bagus (dapat 70 saja sudah sujud syukur). Hasil yang sangat jelas terlihat adalah saya benci sang guru. Dan sampai sekarang, saya alergi Matematika!

Kembali lagi soal 'takut akan Tuhan'. Jujur saja, konsep 'Takut akan Tuhan' serta terlalu banyak nasihat yang bunyinya mengesankan  bahwa Tuhan suka marah, Tuhan suka menghukum membuat saya agak antipati pada Tuhan di masa remaja dan dewasa awal. Pokoknya di masa itu, kalau ada yang ngomongin Tuhan, saya bakal memutar-mutar manik mata saya.

Pemahaman saya kemudian berubah ketika pada akhirnya saya mengobrol dengan seseorang yang menjelaskan makna 'takut' dalam 'takut akan Tuhan' itu sendiri. Menurutnya, kata 'takut' tersebut diterjemahkan dari bahasa Ibrani (bahasa aslinya Alkitab), yakni 'Yirah', yang artinya rasa takut karena hormat, kagum, segan dan terpesona. Jadi bukan takut karena ngeri.

Walau pun pembicaraan saya sangat singkat dengan orang tersebut, tapi cara saya berpikir sedikit demi sedikit berubah. Saya tidak menganggap Tuhan sebagai sosok keji atau killer seperti guru Matematika saya. Tapi saya menganggap Dia sebagai sosok idola atau panutan yang saya kagumi. Misalnya nih ya, saya kagum pada Ahok. Apakah ketika saya bertemu Ahok saya akan lari terbirit-birit kecepirit ngumpet atau menghindar? Kan enggak. Justru saya bakal mendekatinya, walaupun nggak yakin juga bisa ngomong atau enggak karena terkena serangan starstruck :)). Eh, kalau Ahok terlalu jauh deh kayaknya, soalnya saya nggak pernah bekerja sama dengan beliau. Kita umpamakan takut (yirah) ini seperti saya segan, menghormati dan mengagumi seseorang yang pernah menjadi atasan saya dulu saat saya kerja di sebuah LSM; saya berusaha keras untuk tidak mengecewakan beliau, saya bekerja dengan sangat baik.

Pada akhirnya saya memiliki pemahaman tersendiri yang membuat saya nyaman, 'takut (yirah) akan Tuhan', memang akan membuat kita taat pada perintah-Nya, tapi bukan karena takut dihukum kena penyakit kulit, kalau mati kuburnya penuh belatung, tapi taatnya lebih karena nggak mau mengecewakanNya. (Yang mana saya masih berusaha keras untuk tidak mengecewakan. Hosh!)

....

Anyway, kembali lagi deh pada seseorang di Twitter yang mengatakan bahwa taat karena (ke)takut(an) akan (hukuman) Tuhan itu nggak salah, barusan saya mikir-mikir lagi. Ya memang enggak salah. Sama kayak peraturan memakai helm, selama aturan dijalankan para pengendara roda dua dengan baik dan membawa kebaikan, kalau pun alasannya memakai helm karena takut ditilang, yang penting kepala selamat. :D

Mungkin memang ada orang yang cocok dan bakal taat kalau diancam hukuman seperti yang ada di acara-acara religi televisi, ada pula yang tidak.

Ish, serius amat posting-nya.

:D

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Well, there are reasons why some people called TV 'Idiot Box' :)

I agree with you, we shouldn't fear God, we should love God.
That being said, I also agree with you that some people just don't have the capacity to grow up from 'fear' to 'love'.

Also it is much much easier to control people using fear, especially fear of eternal damnation.

People are that manipulative, and people are that dumb.

Makanya pekerjaan yang paling enak itu jualan tiket.
Tiket ke sorga :P

Bedjo

sepatumerah mengatakan...

@bedjo

yoi, makanya profesi pemuka agama laku, ga perlu sekolah khusus, selama jadi mualaf/pindah agama, atau dari bajingan terus tobat, tadaaa, jadilah pemuka agama :))