Laman

Jumat, Agustus 21, 2015

[Thoughts] Jangan Murahan!

You are either free or expensive, but never cheap - Mark Bustos

...Boleh sih, semurah itu, tapi kerjaan gue cuma ngasih aba-aba aja ya? Yang bikin ya elu sendiri.
Beberapa hobi memang bisa mendatangkan penghasilan, dan saya beruntung memiliki beberapa hobi (dan skill) yang terbukti berhasil menambah-nambah uang jajan dari dulu, entah itu dari menulis, membuat aksesoris atau face painting. Belakangan ini, juga menggambar. Tapi terus terang, sampai sekarang saya belum menjadikan hobi-hobi tersebut menjadi sumber penghasilan utama, jadi saya merasa belum layak menyebut diri saya 'penulis', atau 'jewelry maker' atau 'ilustrator'. Kalau pun dipaksa menyebut hobi-hobi itu sebagai profesi, saya selalu menambahkan kata 'amatiran' di belakangnya. Ilustrator amatiran, kalau belakangan ini sih.

Karena amatiran ini, tadinya ketika saya mendapat project untuk mengerjakan sesuatu, maka saya akan mengajukan harga secara amatiran, nggak ada hitung-hitungan secara profesional. Pokoknya segimana mulut mengeluarkan harga, ya segitu harganya. Lalu, kalau ditawar-tawar, kadang saya bilang 'ya sudahlah, buat portfolio, kan lumayan'.

Sampai pada akhirnya saya diomeli dan di-bego-bego-in oleh salah satu rekan yang memutuskan untuk profesional di bidang-bidang saya jadikan hobi. Diomeli karena menurutnya saya menetapkan harga terlalu rendah, hal ini membuat harga pasaran jadi rusak, bikin sengsara orang-orang yang menjadikan lahan tersebut sebagai lahan menggali sesuap berlian (elah!). Yang kedua, dia bilang, saya tidak menghargai tenaga, waktu dan keterampilan saya miliki.

'Elo nih kayak orang yang bisa corel atau photoshop, terus ngaku desainer, tapi ngitung biaya produksi nggak bisa...'




Baginya, semua orang yang memanfaatkan skill-nya untuk sumber penghasilan, baik secara sampingan mau pun sebagai lahan utama, harus bisa menentukan harga secara profesional; pola pikir harus di-switch menjadi : ini pekerjaan, harus bisa bikin gue hidup.

Darinya saya mendapat masukan, bahwa ketika menentukan harga, jangan hanya memikirkan jasa membuat sesuatunya saja, soalnya sudah pasti secara otomatis kita akan berpikir 'Ah bisalah gue bikin gini, murah ajalah...'. Tapi harus memikirkan hal-hal lain : seperti jumlah jam pengerjaan, biaya ide, biaya material yang terpakai saat pengerjaan, biaya listrik untuk perangkat listrik yang dipergunakan saat pengerjaan, biaya dan lain-lain. Untuk gambaran penghitungan secara kasar, bisa diintip di http://rehartanto.info/2015/07/19/tips-menjual-karya-seni-untuk-perupa-pemula/

Jadi menghitung fee tidak semudah 'Ah bikin logo mah gampang! 100 ribu ajalah!'. Kebayang nggak, dengan uang seratus ribu, menutupi biaya listrik, biaya makan, biaya minum, biaya rokok, biaya transportasi selama pengerjaan nggak? Kalau untuk biaya hidup selama pengerjaan project saja tidak mencukupi, apa kabar untuk menghidupi kita minimal sampai akhir bulan? Masa katanya sumber penghasilan, tapi kok malah nombok? Oke, mungkin untuk hidup, kita bisa ambil banyak project, cukup sih buat biaya hidup. Nah, tapi perhatikan energi, pikiran dan waktu yang dicurahkan untuk itu, jangan-jangan jadi lebih besar kalau dibandingkan dengan mereka yang kerja kantoran. Kerja rodi dong namanya. ;-/

Well, iya. Benar juga sih. Dari situ mendadak saya merasa bloon, karena selama ini saya selalu berpikir 'Yang penting saya senang ngerjainnya, tidak ada yang lebih berharga dari kebahagiaan batin' *ngok*

Sekarang-sekarang sih, dalam penghitungan fee, saya jadi lebih melek dalam menghargai waktu, tenaga dan pikiran saya. Sudah tidak murahan lagi. Eh tergantung kasusnya ding, kalau misalnya saya merasa perlu dan harus, saya rela kok mengerjakan desain logo, desain tshirt dan lain-lain tidak sesuai dengan 'harga saya', misalnya untuk project sosial dari badan sosial kecil, saya suka aktivitasnya, namun mereka tidak punya budget memadai , ya sudah, saya gratiskan sekalian.k Atau saya bikin sesuatu karena saya sayang orang tersebut, rela banget saya bikin gratisan. Atau mungkin dengan alasan ya lagi demen/pengen aja bikin buat si anu. :D

Dan saya percaya teman-teman yang bidang pekerjaannya sama pun pernah menghadapi kasus seperti ini.

Sayangnya, orang-orang belum memiliki pengetahuan tentang penentuan harga seperti ini dan penghargaan terhadap pekerjaan-pekerjaan seperti ini sangat rendah. Ada juga yang mengajukan pernyataan-pernyataan yang bikin saya nyubit gemets. Dengan mudahnya orang-orang bilang 'Ah gitu doang kan gampang?'. Okesip. -___-

Berikut list pernyataan yang menggemaskan itu

Gambarin muka gue dong! (bisa diganti bikinin logo, packaging, motret dan lain-lain)
Respon : Gratis? No thanks.

Kenapa nggak mau ngegambar muka gue gratis?
Soalnya ini ibarat lu ke dokter, terus bilang : obatin gue gratis doong!

Tapi gambar kan cuma hobi?
Ya kalau ngegambar yang gue suka, ya emang hobi. Tapi ngegambar yang elu mau, itu namanya pekerjaan.

Wah, masa gambar doang harganya segitu sih?
Lah kan gue nggak ngitung jasa gambarnya doang, tapi jam kerja, material, ide, listrik, transport dan lain-lain?

Tapi si Anu, fee-nya segitu doang.
Ya udah atuh gambarnya sama si Anu.

Jangan segitu dong, segini aja (tapi nawarnya gila-gilaan, murah banget)
Boleh sih, semurah itu, tapi kerjaan gue cuma ngasih aba-aba aja ya? Yang bikin ya elu sendiri.

Ha.

Tentu saja saya nggak ngomong begini, ntar terjadi kerusuhan. :))

Anyway, tapi sayangnya 'mengedukasi' masyarakat (bah, mengedukasi! Berat bahasanya) agar menghargai karya itu adalah hal yang cukup sulit, karena ternyata sang pekerja kreatifnya sendiri masih banyak yang belum menyadari harga mereka sendiri. Masak yah, saya pernah menemukan seseorang so called desainer, menghargai project membuat logo sebesar 125.000 - 250.000?

Selama masih banyak yang 'murahan', maka pandangan masyarakat terhadap jenis pekerjaan 'kreatif' ya akan terus murah.

Kasian ya? :(


3 komentar:

Emaknya Benjamin mengatakan...

Kebanyakan orang memang gitu, pengen kualitas tinggi, harga minim banget. Saat pekerja seni kepepet butuh uang, mau ga mau jadi ngalah, drpd dapur ga bisa ngebul. Benar banget harga pasaran utk seni tertentu bisa rusak, ya mau bgm lagi butuh duit hehe.

tikah kumala mengatakan...

Aku pernah pesen logo ke temen. Pas mau aku bayar, dianya enggak mau nentuin harga. Pokoknya terserah aku. Jadilah aku ngasihnya juga dari hasil tanya-tanya ke sesama profesi desaigner, karena aku beneran awam soal harga logo. Tapi dalam hati, kalau bisnisku jalan, bakalan aku tambahin kayak royalti. E, baru permulaan malah enggak lanjut. Sampai sekarang masih nyesek aja rasanya, karena udah menyia-nyiakan karya orang lain (yang mungkin bayarannya enggak seberapa menurut dia).

sepatumerah mengatakan...

@emaknya Benjamin : Iyaa, suka sedih deh, kalau ngeliat seberapa besar pekerja2 seni 'amatiran' ditawar edan-edanan. Apalagi kalau di kota2 kecil :-/

@tikah : biasanya kalau begitu, orangnya nganggep kamu teman, saya juga suka gitu kok, kalo sama teman, apalagi yang dekat, harga sangat negotiable. Bahkan mungkin gratis. :D