Laman

Kamis, November 26, 2015

Yang Pintar Pun Percaya Hoax

sumber
Don’t believe everything you read on the Internet just because there’s a picture with a quote next to it.” – Abraham Lincoln*
... Asli saya setengah tidak percaya, selama ini saya selalu menganggap yang menelan bulat-bulat hoax adalah tipe yang berpendidikan rendah dan baru menyentuh media sosial
Beberapa waktu yang lalu, saat sedang mengamati home feed Facebook, tiba-tiba saya menemukan sebuah foto seorang Jackie Chan di dalam sebuah mobil. Dalam foto tersebut Jackie Chan mengenakan kandora/thawb. Berita yang menyertai di foto tersebut adalah Jackie Chan masuk Islam. Sudah lama saya bersikap skeptis (bahkan belakangan jadi apatis. haha) terhadap berita-berita yang saya temukan di internet, jadi reaksi pertama saya adalah : jelma blegug** mana lagi nih yang percaya dan share berita beginian?

Dan saya terkejut, karena 'jelma blegug' tersebut adalah seseorang yang saya tahu berpendidikan tinggi, melek teknologi dan memiliki reputasi baik di tempat kerjanya. Asli saya setengah tidak percaya, selama ini saya selalu menganggap yang menelan bulat-bulat hoax  adalah tipe yang berpendidikan rendah dan baru menyentuh media sosial, jadi sedikit euforia karena tak terbiasa dengan tsunami informasi di internet.




Kurang lebih fotonya seperti yang di bawah ini, kemarin saya mencoba menelusuri di wall-nya beliau, tapi nggak ada. Mungkin beliau sekarang sudah insyaf, bahwa yang disebarnya adalah hoax. Foto di bawah ini saya dapat dari situs kumpulan hoax Islami.

Hoax Jackie Chan Masuk Islam.
Dan tanpa berniat mencari, saya menemukan koreksi atas berita tersebut. Ternyata foto tersebut adalah foto Jackie Chan saat syuting film terbarunya di Dubai.

Bukan sekali dua kali saja saya menemukan berita yang saya curigai hoax, dan kebanyakan sih yang berbau-bau agama. Berita absurd itu kemudian di-share oleh banyak manusia. Bahkan saya sempat bercanda bilang : kalau mau berita bohong di-share, pakai aja kalimat 'Azab dari Tuhan', 'Mujizat Allah' atau 'Please share, kalau nggak masuk neraka.' :P

Walau pun hoax yang saya temukan kebanyakan berbau agama, tapi topiknya sebenarnya macam-macam kok, dari kesehatan, sampai politik. Selain di-share di Facebook, suka juga disebar di Whatsapp group.  Yang kadang membuat saya tertakjub-takjub nggak habis pikir, adalah manusia penyebarnya. Semuanya berpendidikan tinggi,  yang (seharusnya) sih, lebih cerdas dan bijaksana dalam menyikapi berita yang diterimanya. Kalau begini caranya, akan lebih tepat kalau kalimat bijak 'Jangan menilai orang dari penampilannya' diganti jadi 'jangan menilai orang dari pendidikannya', ya nggak sih? :))

Anyway, gara-gara itu saya jadi berpikir, kok bisa sih manusia-manusia pintar ini terjebak percaya hoax?

Dugaan saya sih, manusia sekarang terlalu terbiasa dengan teks singkat yang mereka temukan di internet (khususnya media sosial); bahkan mungkin teks nggak dilirik lagi, kalau ada fotonya. Ya lihatlah, berapa banyak karakter yang bisa muat dalam satu update Facebook? Twitter? Berita-berita online? Keterbiasaan pada teks singkat ini menyebabkan banyak hal, antara lain :

(1) Terlalu cepat membaca dan mempersepsi teks, sehingga nggak sempat memikirkannya matang-matang dan memahaminya. Boro-boro kepikir bahwa apa yang baru diserapnya absurd atau nggak masuk akal, lah membaca caption foto saja enggak lho! Saya pernah melihat ada orang yang bertanya : 'Ini di mana?', padahal di caption sudah disebut. :))
(2) Orang malas riset, mencari referensi informasi yang benar. Teks singkat dan pesan instan itu membuat orang malas membaca lama-lama, apa lagi layar ponsel/tablet/PC itu memang nggak mendukung kenyamanan mata untuk membaca ya? Jadi, riset? Apaan tuh?
(3) Orang tidak mempertimbangkan kredibilitas sumber berita. Ya nyari referensi informasi yang benar aja malas, bagaimana mau mencari bisa dipercaya atau tidak situs sumber beritanya? :D

Hal-hal lain penyebab orang menyebarkan hoax? Bisa jadi karena kesesuaian minat atau kepentingan sang penyebar dengan berita hoax tersebut. Contoh, buat penggemar dakwah, berita-berita hoax yang menyatakan seseorang masuk agamanya mungkin membuatnya bahagia, atau hoax tentang hukuman karena tidak menuruti aturan agamanya mungkin membuatnya merasa wajib memberitahu teman-teman seagamanya dan seterusnya. Atau soal hoax politik, berita bohong tentang pemimpin politik yang tidak disukanya tentu hal yang menggembirakan untuk di-share.

Ada satu lagi nih, penyebab orang menyebarkan hoax, yakni merasa jadi mahluk aneh kalau semua orang menyebarkan tapi sendirinya tidak. Saya ingat banget pernah ada yang menanyakan, kenapa saya nggak mengucapkan Selamat Idul Fitri di media sosial saat Lebaran entah tahun berapa. Well, kadang-kadang saya mengucapkan selamat hari raya, kadang-kadang nggak. Ya, soalnya saya nggak merasa wajib sih ngucapin selamat hari-hari apa pun di media sosial, jangankan idul fitri, natal juga enggak, kalau lupa :))

Nah kombinasi antara malas baca plus kesesuaian kepentingan plus takut merasa aneh sendiri ini disempurnakan dengan kemudahan berbagi di media sosial, mau share nggak butuh mengetik ulang, bahkan sekarang-sekarang nggak butuh juga untuk meng-copy dan paste, nggak pakai ribet, tinggal klik tombol yang disediakan, Kelar.

Jadi, sudah berapa banyak hoax yang kamu sebar? :D



*Kamu nggak beneran percaya kan, kalau quote yang saya cantumkan di atas disebut oleh Abraham Lincoln? 
** Bahasa Sunda, artinya : Orang bodoh


7 komentar:

Astika Puspaningtyas mengatakan...

Kalo saya paling sebel sama hoax2 soal kesehatan.. Mana kadang yang share orang yg berkecimpunh di dunia kesehatan pula....zzzzz

Gabriela Anastasia mengatakan...

Untuk tanda bintang *
Untung saya ga sempat percaya tan (kalo sempat percaya berarti tante gagal mendidik saya tan.. LOL),
Fenomena perang medsos ga ada di jaman itu soalnya..
^__^

okke sepatumerah mengatakan...

Astika : Haha, saya ga sebel, cuma suka takjub aja untuk semua jenis hoax dan dalam hati bilang 'Itu nyebar ga pake mikir apa?' :))

Gaby : bagus! Kalo kamu percaya dibalikin ke tpb. :))

Lusi T mengatakan...

Ya males aja sih cari kebenarannya. Teman2 group chatku byk yg sdh punya jabatan tinggi, nggak mungkin bodoh kan? Tapi sukanya "copas dari sebelah" tanpa mikir. Apa yg dirasa sensasional utk diomongin langsung disebar.

Dian Kaca mengatakan...

pak abraham-nya udah meninggal sebelum ada internet buukk.. hehe

okke sepatumerah mengatakan...

Lusi T :
haha, iya, share tanpa mikir, kebanyakannya orang-orang nih :D

Dian Kaca:
Hahaha, benarrrr :D

Grace Febe mengatakan...

Bahkan sekelas dosen pun pernah loh mbak post gambar yang..... Yasyalam :/