Laman

Rabu, April 05, 2017

Anak Perempuan Nggak Musti Jadi Princess Kok!

“Girls can be athletic. Guys can have feelings. Girls can be smart. Guys can be creative. And vice versa. Gender is specific only to your reproductive organs (and sometimes not even to those), not your interest, likes, dislikes, goals, and ambitions.”

- Connor Franta, A Work in Progress 

...... perempuan harus kalem dan anggun selayaknya Miss Universe dan slogan Brain, beauty, behaviour and boobs-nya.
"Wah, cewek ya? Ih pasti ribet deh ntar besarinnya. Untung anak gue cowok dua-duanya." begitu komentar yang saya dapatkan dari seseorang sekitar setahun yang lalu, saat saya dalam kondisi harap-harap cemas jelang kelahiran.  Orang tersebut menanyakan jenis kelamin bayi yang saya kandung.

"Kenapa ribet?" jawab saya setengah jengkel, setengah penasaran.

"Iya, ngawasinnya ribet, nggak boleh jatuh, harus dilindungi sampai gede, pokoknya harus serba hati-hati, kayak Princess gitu deh! Enakan laki, diemin aja mau jungkir balik kayak apa juga, ga repot." jawabnya.

Di kesempatan yang lain, setiap saya mengunjungi toko perlengkapan bayi untuk membeli pakaian buat anak saya, sang SPG selalu bertanya,"Cowok apa cewek anaknya, Bund?" Ketika saya jawab cewek, maka ia akan menggiring saya ke arah pakaian anak perempuan yang berenda-renda ala Cinderella dan berwarna aneka pink, dari shocking pink sampai baby pink.

Sementara itu di saat lain, jauh sesudah anak saya lahir, seorang tetua menunjukkan keheranannya begitu mengetahui bahwa anak saya nggak suka pada boneka berbulu. Iya, dia geli, atau gilaeun dalam bahasa Sundanya. Sambil berseloroh, partner bilang,"Tau-taunya dia suka bola..."


"Ya jangan dong, kan anak perempuan..." jawab sang tetua.




...

Ini ibu Budi, Ibu Budi sedang memasak. 
Ini Wati, Kakak Budi, Wati sedang menyapu. 
Ini Bapak Budi, Bapak Budi sedang menonton TV. 
Ini Iwan, Adik Budi, Iwan sedang bermain bola.

Apakah ada yang mengingat kalimat-kalimat di atas? Kalau ingat, yak, berarti Anda terjebak pertanyaan jebakan umur. Ha!

Nggak ding. Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat yang ada pada buku pelajaran Bahasa Indonesia jadul keluaran Balai Pustaka. Dalam buku tersebut diceritakan aktivitas-aktivitas keluarga Budi; cuma sejauh yang saya ingat, selalu ada pembagian tugas yang jelas berdasarkan jenis kelamin di setiap seri bukunya, untuk Ibu dan Wati, aktivitasnya melulu urusan rumah tangga, sementara untuk Budi, Iwan dan Bapak, kalau nggak main bola, nonton TV, main layangan dan bekerja. 

Kita sudah terbiasa untuk membagi-bagi ruang gerak bagi anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki. Saking terbiasanya, bahkan kita menganggap hal tersebut adalah hal yang alamiah dan kodrati, sealamiah perempuan akan mengalami haid dan hamil, dan anak laki mimpi basah.

Hal ini berlangsung sampai sekarang. Anak laki-laki itu barang-barangnya harus biru, perempuan pink. Anak laki-laki mainannya mobil-mobilan, perempuan boneka. Anak laki-laki boleh melakukan permainan yang secara motoris aktif dan agresif, seperti memanjat pohon, salto (bahkan saya mengenal seseorang yang menganjurkan anaknya untuk berani berkelahi), perempuan harus kalem dan anggun selayaknya Miss Universe dan slogan Brain, beauty, behaviour and boobs-nya.



*Maaf, GIF-nya mendistraksi, tapi saya sudah lama pengin memakai GIF macam ini kalau posting. Ehe)
  
Padahal kalau kita pertanyakan 'kenapa harus begitu?', kita sendiri bakal bingung dan bertanya-tanya 'Iya, ya? Kenapa harus begitu ya?'

Dulu saya pernah mempertanyakan hal tersebut, dan ada orang-orang yang berkata 'Udahlah, nggak usah mikirin yang nggak penting dipikirin!' Yes, beberapa orang mungkin menganggap hal tersebut bukan masalah besar. Memang kalau dilihat dari pembagian aktivitas, ruang gerak dan atributnya ya perkara sepele, sih. Tapi kalau dipikirkan lebih lanjut lagi, terutama dampaknya, sepertinya sudah nggak bisa dianggap masalah ecek-ecek lagi.

Pembagian aktivitas, ruang gerak dan atribut tersebut secara langsung mempersempit kemungkinan pilihan untuk mengembangkan skill, potensi dan minatnya. Contoh nih, ada berapa banyak perempuan yang tidak menyukai (olahraga) bola (selain saya)? Saya rasa cukup banyak. Nah, sekarang yang jadi masalah adalah, keputusan tidak bermiuat pada olahraga tersebut diambil setelah mereka terlibat di dalamnya, atau semata karena tidak dibiasakan/diperkenalkan dari kecil? Kalau saya sih karena yang kedua. Contoh lainnya, teman saya, laki-laki, mengaku sejak kecil tidak pernah dibiarkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sehingga ketika ia kuliah di rantau, kelabakan mengurusi masalah makan/masak, setrika dan beres-beres rumah.

Pembagian aktivitas, ruang gerak dan atribut tersebut juga membiasakan anak untuk melakukan generalisasi (dan stereotyping) dalam melakukan penilaian-penilaian terhadap dunianya. Walau pun nggak semua stereotyping buruk, tapi tetap saja kebiasaan tersebut mengabaikan keunikan-keunikan pada individu. Oke, memang nggak ada orang yang bebas dari dosa stereotyping, cuma apa jadinya kalau hal tersebut menumbuhkan sikap-sikap diskriminatif terhadap orang yang tidak masuk dalam stereotype di benaknya?

Misal, Frozen itu (konon) dikategorikan sebagai film buat anak perempuan, anak teman saya, laki-laki, terpaksa menyembunyikan kesukaannya tersebut karena takut diolok-olok temannya. Lalu, ketika ada pria yang memakai pakaian warna pink, kemudian diledek 'Banci!'. Atau kalimat-kalimat 'Udahlah sini, cewek mah nggak becus nyetir...'

Ahem.

Karena saya dan partner ingin putri kami bisa mengeksplorasi potensi dan minat, serta mempelajari banyak skill, maka kami berdua sepakat untuk tidak mengkotak-kotakkan aktivitas, ruang gerak dan atributnya sama sekali.

Saya dan partner tidak melakukan pembagian pekerjaan rumah berdasarkan jenis kelamin kami. Partner mengganti diapers juga, nyapu juga, ngepel juga. Saya memperpanjang STNK mobil. Atau sebaliknya, mana-mana yang enak dan memungkinkan saja.

Bajunya warna-warni, biru ada, pink ada, kuning, hitam pun ada. Modelnya macam-macam. Yang nggak ada baju berenda bertumpuk ala-ala Cinderella, soalnya makenya ribet dan lepasnya susah, ribet kalau mau nimbang pas imunisasi. Anaknya kegerahan pula pakai baju seperti itu. Oke, abaikan.

Mainannya, well, saya belum pernah membelikan mainan apa-apa sih, soalnya anak umur segitu bawannya main banting, mainan hanya bertahan satu minggu. Zzzz. Tapi niatnya, saya akan memperkenalkan berbagai macam mainan tanpa memedulikan pengelompokkan mainan tersebut.

Kalau memang satu saat ia pengin jadi Princess, go ahead, tapi itu berdasarkan keinginannya sendiri, bukan karena memang kami kondisikan demikian. Kalau dia ternyata low profile, mau jadi rakyat jelata juga boleh. Mau dia suka otomotif juga monggo. Mau suka bola, gih. Apa pun yang dia suka. Bebasss.

Begitu. Jadi, mengutip kembali judul posting ini, Anak perempuan nggak mesti selalu jadi Princess kok, anak laki juga nggak mesti selalu jadi superhero.Biarkan anak-anak jadi anak-anak saja, yang mengeksplorasi semua hal terbebas dari jenis kelamin, biar jadi anak-anak yang keren! Ahey!



6 komentar:

Ami Rahmiana Utami mengatakan...

Nice post Mbak. Saya setuju dengan tulisan mbak. Pembelajaran buat saya nanti sebagai calon Ibu.

Melissa Octoviani mengatakan...

sama kayak anak cowo ga boleh main masak2an ya... waktu di playground, ada ibu2 yang nanya kenapa anakku dikasih main masak2an padahal dia cowo... lah....chef terkenal kan kebanyakan cowo ya hahahaha...

okke sepatumerah mengatakan...

@Ami : thank you sudah membaca :-)

@melissa Octoviani : iyaaa! Gordon ramsey tuh, laki :D

Ratie mengatakan...

Jd teringat waktu mau beli selimut utk anak cowo saya yg gede dan dia memilih hello kitty. Saya sih cuek, penjaga tokonya yg agak shock dan memaksakan senyum mwuahaha.. Setuju tp mba sama tulisan mba. Semoga semakin byk org yg berpikir demikian demi kemajuan anak bangsa *tsaaah berat 😁😁 Amin ga? Amin doong.. 😘 Keep writing, mba!

Fiberti CH mengatakan...

artikel yang mengundang introspeksi, setuju untuk hal-hal yang receh seperti pilihan warna, olahraga yang disuka, juga kesamaan dalam hal berperasaan, kewajiban bersih2 dalam rumah tangga, menuntut ilmu, dsb.

untuk hal-hal lain, seperti perilaku, permainan, kegiatan2 yang jelas mana mayoritas gendernya, aku memilih akan lebih hati-hati karena depannya bisa menyulitkan dan kompleks bagi kita dan si anak sendiri...

pernah dengar penelitian tentang anak-anak yang diberi mainan tanpa melihat gender, seorang anak perempuan dikasih akhirnya mobil2an itu malah digendong dan dijadikan anak-anakan.. insting tidak akan hilang hanya dengan beda permainan

buatku sih sederhana saja, besarkan anak laki-laki menjadi anak laki-laki, anak perempuan menjadi anak perempuan, sesuai fitrahnya, tapi ya silahkan saja melakukan hal yang sebaliknya, asal kelak siap dengan konsekuensinya.

okke sepatumerah mengatakan...

Ratie : Amiin :)

Fiberti CH :
Ada link ke penelitiannya? :)
Anyway, keywordnya sih 'membebaskan'. Kalau seorang anak mau main mobil2an, gih. Boneka, gih. Mau beraktivitas apa pun gih, selama nggak merugikan diri dan orang lain. Untuk anak saya, saya nggak akan 'mengurung' minat, potensi dan skill dengan so called 'fitrah' atau 'kodrat' perempuan dan laki-laki. Karena seringkali kata kodrat itu dipakai untuk menggantikan konstruksi sosial yang merugikan. :)