Laman

Rabu, Mei 24, 2017

3 Alasan Saya Tidak Mengunggah Foto Anak di Media Sosial

There are a lot of pros and cons about social media; it's just how you choose to handle it and how you have to be prepared for the negatives as well. 
Aubrey Peeples

....bukannya saya nggak bangga sama anak saya, lho! Aduh, kalau ngikutin nafsu jempol posting sih, udah ribuan foto terunggah kali.
Anak kamu baik-baik aja, kan?

Ini kesekian kalinya saya mendapat pertanyaan dari kenalan dengan isi yang kurang lebih mempertanyakan kondisi anak saya; baik itu via Whatsapp mau pun  Facebook Messenger.

Waktu pertama kali sih saya bingung ke mana arah pertanyaan tersebut, sampai pada akhirnya saya baru mengerti setelah dijelaskan.

Ya, abis kamu nggak pernah upload fotonya sih di FB.

Iya, banyak orang menyangka saya tidak pernah mem-posting foto anak saya di media sosial karena saya menyembunyikan kondisi(fisik)nya. Bahkan ada juga nih orang yang--- sebelum saya sempat mengatakan apa pun ---  sudah memberikan wejangan agar apapun dan bagaimana pun kondisi anak, kita harus menerima dan harus bangga, supaya perkembangan mental sang anak baik dan lain sebagainya sebagainya.

Spontan saya nyengir.

Anak saya baik-baik saja. Alasan saya nggak posting sama sekali nggak ada hubunganya dengan kondisi fisik anak saya, kok. Ini hanya kesepakatan bersama, antara saya dan partner.

Walau pun... ssst... setelah punya anak, ternyata godaan untuk posting tentang anak itu begitu besar!  Pernah saya khilaf unggah foto di Path, saya tandai inner circle, tapi kemudia saya menyesal dan saya hapus foto tersebut.

Iya, segitu besarnya godaan itu! Rasanya semua yang dilakukan oleh anak saya sangat lucu, sampai perlu dilihat oleh jagad raya. Bahkan dia napas pun lucu, sumpah! :)))

Eh, sampai mana tadi?



Oke...

Saya masih ingat betul, beberapa alasan yang sempat kami bahas tentang posting foto anak di media sosial, yaitu

1. Mengurangi kemungkinan mempermalukan anak saya.
Sebagai orangtua yang pro consent, tentu saja saya dan partner berprinsip, apa pun yang dilakukan untuk anak kami, harus diketahui dan disetujui anak kami, atau harus berdasarkan hasil kompromi antara kami sebagai orangtua dengan dia. Iya, memang consent ini baru bisa berjalan jika anak sudah cukup besar, namun nggak ada salahnya kan berlatih untuk membiasakan diri? Hal-hal receh, seperti membersihkan hidung, membersihkan telinga, minum obat atau aktivitas lain yang tidak disukainya namun harus dilakukan demi kebaikannya, sering kami sertai kata 'Maaf yaaa, tapi ini kan (sebutkan kebaikan untuk dia)'

Perwujudan dari prinsip ini, sebagian kecilnya adalah telinganya tidak ditindik sedari bayi, kami mau dia yang memintanya sendiri setelah besar. Yang kedua, kami tidak akan memaksa dirinya untuk mau dipeluk, dicium atau digendong orang lain.
 
Nah, sharing foto pun kami berlakukan kebijakan yang sama. Mengunggah foto tanpa sepengetahuannya, ya sama saja, melanggar prinsip pro consent ini. Gimana kalau ternyata dia nggak suka kami meng-upload fotonya?

Ada satu kasus nih, beberapa tahun yang lalu saya pernah dicurhati oleh salah seorang mantan mahasiswi;  katanya ia sebal karena ibunya sering mengunggah (dan menge-tag) foto dirinya tanpa izin di Facebook. Ketika ia menunjukkan salah satu foto yang bikin uring-uringan itu, ternyata foto tersebut biasa saja, foto sang mahasiswi mencium sang ibu. Ketika saya tanya, kenapa ia sebal... ternyata foto itu menyebabkan dirinya jadi bahan olok-olokan di kampus. :D

Kami berusaha untuk membiarkan ia tetap anonim di dunia digital, supaya ia bisa melewati masa pubertasnya dengan relatif aman, tanpa ribuan jejak-jejak digital memalukan, yang bisa menjadi bahan celaan teman-temannya.

Idealnya, sih, kami tidak sharing... well, salah, saya tidak sharing (soalnya partner memang nggak sharing apa pun tentang anak di media sosialnya) apa pun sih ya? Karena apa pun bisa memiliki potensi bahan celaan/bully-an. Namun, namanya juga mamak-mamak, remember? Jiwa pamernya tinggi, jadi terkadang saya suka upload foto... jarinya, atau kakinya, atau punggungnya, atau kepalanya kayak foto di atas. :)))

Bahkan saya juga suka sharing tentang suka duka menjadi ibu, di Instagram. Walau pun sebenarnya subyek dari ceritanya adalah saya, si new mom ini, namun tentu saja si anak terlibat juga.

Maafkan Ibu, Nak, tapi kan ibu tidak upload foto, juga tidak memberi tahu nama dan segala data kamu yang sebenarnya. Bukankah di era media sosial ini berlaku hukum no pic = hoax? Jadi jika sewaktu-waktu ada teman yang meledekmu gara-gara postingan ibu, kamu boleh ngeles 'Ih, emang dia ibu saya?', kok! :D


2. Menekan kemungkinan (foto) anak saya terpapar oleh orang jahat.
Sebut saja kasus Official Candy's Group, sebuah group online di Facebook yang beranggotakan ratusan pedofil. Kasus ini membuktikan bahwa orang yang jahat pada anak-anak di luaran sana banyak dan... yes, hal ini super menakutkan bagi saya. 

Di beberapa artikel yang pernah saya baca, para pedofil ini sering mencuri foto anak-anak kecil dan memasukkannya ke website dengan audience yang memiliki kelainan ini, disertai dengan komentar eksplisit seksual. Ewwww.

Lalu ada juga kasus foto-foto anak yang diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab, untuk kemudian diklaim sebagai foto anaknya. Entah untuk apa. Ngeri ih.

Belum lagi kebijakan Facebook yang bisa bisa menyarankan orang men-tag foto hanya berdasarkan hasil memindai dan membandingkan foto teman-teman kita dengan profile picture dan foto kita yang telah ditandai orang. Dengan demikian, artinya ketahuan dong, siapa saja orang-orang terdekat anak saya? Otak kriminal saya membayangkan, siapa saja inner circle anak saya bisa dimanfaatkan untuk menipu.

Saya nggak mau (foto) anak saya disalahgunakan oleh pedofil. Saya pun nggak mau anak saya diaku-aku oleh orang lain. Saya nggak mau ada yang menelepon/menghubungi inner circle anak saya untuk kemudian mengatakan 'Si (Anak saya) kecelakaan, transfer sekian untuk operasinya'

Iya, memang saya parnoan. :D

3. Menghindari waktu bersama yang berkurang gara-gara sibuk berfoto.
Oke, namanya juga mamak-mamak dengan handphone, yes? Maunya sih, setiap anak bergerak, saking lucunya (menurut kita), ya diabadikan. Itulah yang pernah saya lakukan, anak geser dikit difoto, anak ketawa sedikit, difoto. Pokoknya handphone pernah tidak terlepas dari tangan. Akibatnya? Waktu yang dipakai untuk bersamanya 'terganggu' dengan waktu berfoto. Belum lagi kalau saya gatel memberi filter ini itu. Duh. Lalu jeleknya lagi.... anak saya jadi gila difoto jugaaa cobaaaaa.

Kalau saya memegang handphone di dekatnya, maka ia akan menunjuk sambil bilang 'Uh,uh!', minta difoto dong! Seusai difoto dan diperlihatkan hasilnya, minta difoto lagi, terus aja begitu sampai ia sweet seventeen-an

Ya kali main bareng dia berjam-jam foto-fotoan melulu? Nggak sehat sih, bagi saya. Sejak saat itu, saya selalu mengenyahkan handphone saat bersama anak. Biarlah yang lebih sering memfoto itu nenek-neneknya, kakek-kakeknya, oom-oomnya, tante-tantenya... tinggal saya minta kirim fotonya via Whatsapp :))



Kurang lebih seperti itulah, alasan saya nggak mengunggah foto anak saya di media sosial. Jadi bukannya saya nggak bangga sama anak saya, lho! Aduh, kalau ngikutin nafsu jempol posting sih, udah ribuan foto terunggah kali. :))

Tapi, bukibuk dan pakbapak, buat saya mengunggah/tidak mengunggah foto atau data apa pun ke media sosial adalah keputusan masing-masing individu, kok. Posting ini bukan mau bilang bahwa keputusan saya yang paling benar dan yang lain salah, lho!

So, ada yang memutuskan untuk tidak posting foto anak juga di media sosial? Alasannya apa?

Atau, untuk yang memutuskan mengunggah foto anak, alasannya apa?



1 komentar:

amilia V3 mengatakan...

Keren banget ulasannya mom, thanks sudah memberikan motivasi kepada para ibu² muda yang sepemikiran dengan mamamo. Saya juga termasuk salah satu ibu muda yang baru punya anak satu dan tidak upload foto (wajah) anak. Tapi sekarang mulai gatel upload wajah anak, padahal dalam agama islam tidak boleh pamer foto anak, dalam lingkup sosial juga sebaiknya jangan untuk menghindari pedofil. Sekali lagi terimakasih tulisannya sangat bagus sekali