Laman

Selasa, September 05, 2017

Tentang Mompetition (Dan 5 Cara Saya Menghindarinya) - Featuring Karya Tisya Hanafie

Motherhood is not a competition to see who has the smartest kids, the cleanest house, the healthiest dinner, the nicest clothes. Motherhood is your journey with your children - Hot Moms Club

....kalau ibu tersebut melakukan pola asuh A, apakah akan merugikan saya dan masyarakat? Kalau enggak, ya sudah, nggak usah ribut.
Walau pun saya baru menjadi ibu setahun belakangan, tapi saya aware banget dengan kondisi tidak harmonis antaribu. Bukannya saya visioner ya? Tapi kebetulan saja, beberapa tahun yang lalu saya menjadi pembimbing tugas akhirnya Tisya Hanafie, mahasiswa saya. Topik yang diambilnya adalah fenomena mompetition, alias kompetisi antaribu, soal apa lagi sih, kalau bukan soal pola pengasuhan? Fenomena ini tak jarang berujung pada mommywar, atau perang antaribu.

Dari proses pembimbingan, saya jadi sedikit tahu gini-gitu-nya mompetition. Kompetisi ini benar-benar nggak sehat, baik buat ibu, anak bahkan keluarganya. Waktu itu saya berpikir kalau saya jadi ibu, saya nggak mau terjebak dalam bentuk kompetisi apa pun. Saya bilang kalau ya, karena saat itu saya, boro-boro mikir punya anak, menikah pun belum masuk rencana hidup.

BACA JUGA : TENTANG MENIKAH DAN MENJADI VOLTES 5

Sejujurnya, dulu sih saya berpikir, ngapain sih ibu-ibu ini pada berkompetisi? Tapi setelah punya anak, saya baru menyadari bahwa kejeblos dalam arena kompetisi ini sungguhlah mudah.

Kenapa ada mompetition?
Sambil menuliskan ini, saya berusaha mengingat-ingat hasil diskusi saya dengan Tisya, ya? Jadi penyebab mompetition ini adalah insecurity. Why insecure? Bayi itu nggak datang dengan manual book, dan kejadiannya, pola pengasuhan yang dianggap berhasil untuk satu bayi, belum tentu berhasil diaplikasikan pada bayi lain. So, sebenarnya ibu-ibu itu clueless, pengin tahu apakah pola pengasuhannya sudah baik atau belum. Bahkan artikel parenting yang katanya ditulis oleh ahli pun gak bisa mengakomodasi segala kondisi yang mungkin ada. Makanya emak-emak kerap intip-intip pola asuh dan perkembangan anak lain, untuk cari tahu, mereka sudah di jalan yang benar atau belum. Dari intip-intip, kemudian mulai membandingkan satu sama lain.

BACA JUGA : APA YANG TIDAK PERNAH ORANG CERITAKAN TENTANG PUNYA ANAK



Yang kedua, adalah rasa excited dan kebanggaan terhadap anak sendiri. Namanya anak sendiri ya, apa-apa tentunya menarik dan membanggakan. Hal ini bikin seorang ibu selalu bersemangat sharing soal anaknya pada seluruh dunia. Ketika kisahnya dibaca oleh ibu lain, muncullah perbandingan-perbandingan itu.

Saya pikir saya nggak akan insecure, ternyata insecure juga. Apa lagi sebelumnya saya nggak punya pengalaman punya anak, blank lah. Lalu soal excitement, beneran perasaan ini nggak bisa ditolak, bagi seorang ibu (dan orangtua secara umum), apa pun yang dilakukan oleh anaknya itu menarik. Bahkan anaknya napas atau ngedip aja dianggap lucu. Seriusan deh.

Saya pun sudah berusaha sedemikian rupa untuk jauh-jauh dari arena mompetition, tapi kadang saya suka culun untuk menyadari bahwa satu pertanyaan sederhana saja bisa menyeret saya masuk ke dalamnya. Misalnya, satu hari ada seorang ibu bertanya tentang berat anak saya, ya saya jawab. Kemudian dia bilang 'Iiih, dulu anak gue waktu seumur gitu beratnya sekian kilo lhooo!'

Alih-alih cuek, tapi saya malah tergores merasa anak saya di'hina', dalam hati saya berseru '...bitch. Biasa aja deh.'

Tapi enggak kok, saya nggak pernah sampai adu mulut. Maleys.

Apa akibatnya jika seorang ibu kompetitif?
Salah satu posting  saya di Instagram ,tentang mompetition, pernah di-regram oleh satu akun ber-followers banyak. Dari sana, mendadak banyak yang me-regram ditambahi dengan curhat tentang kebiasaan membanding-bandingkan ini. Berhubung sekarang adalah eranya media sosial,  mereka seringnya membandingkan diri sendiri dengan mamagram alias mama-mama penggiat Instagram yang posting parenting-nya kinclong. Ada yang bilang, mereka jadi semakin insecure dengan pola asuh sendiri, ada yang bilang lagi ada yang kemudian berusaha membeli semua barang yang dipakai oleh mama-mama idola/influencer tersebut, yang kebetulan menampilkan perkembangan prima sang anak.

Ini nggak sehat.

Bisa jadi seorang ibu kemudian akan frustasi karena perkembangan anak tidak seperti para mama-mama influencer, kemudian ujung-ujungnya bakal melampiaskan rasa frustasinya dengan memaksakan satu pola asuh pada anak sendiri. Kasihan anaknya bok!

Bisa juga seorang ibu kemudian jadi... boros. Beli ini, beli itu, les ini, les itu, agar sang anak bisa secemerlang anak para influencer.

Bagaimana (saya) menghindarinya.
Awalnya saya memakai sikap pro choice, satu istilah yang saya adopsi semena-mena dari pro choice movement, kemudian saya terjemahkan sebagai : bersikap mendukung seluruh pilihan ibu terhadap anaknya. Mungkin saya salah adopsi istilah, karena kemarin sempat ada beberapa orang yang protes. Lagi pula, pada akhirnya saya nggak benar-benar mendukung pilihan ibu lain juga kok, tapi sikap yang saya ambil cenderung ke tidak peduli.

Anyway, pada intinya, saya tidak mau usil terhadap pilihan pola asuh seorang ibu, plus saya tidak mau diusili orang lain. Tindak nyatanya adalah

(1) Ketika melihat pola asuh seorang ibu yang berbeda dengan pola asuh yang saya lakukan, saya akan berusaha keras mingkem, nggak komentar apalagi kritik. Biarlah judgement-judgement itu tinggal di otak saja
(2) Tidak memberikan saran parenting, kalau nggak ditanya.
(3) Tidak terlalu banyak dan detail sharing soal anak, karena semakin banyak sharing yang bawel bakal semakin banyak. Betul? :))
(4) Ketika bersama ibu-ibu lain, berusaha untuk nggak melulu ngomongin anak.
(5) Nggak kepo soal anak lain, untuk tahu bahwa saya sudah di 'jalan yang benar' saya hanya berpanduan pada dokter anak, dan mungkin psikolog ketika ia sudah lebih besar.

BACA JUGA : 3 ALASAN SAYA TIDAK MENGUNGGAH FOTO ANAK DI MEDIA SOSIAL

Saya akan memilih mengajukan satu pertanyaan sebelum saya masuk ke adu argumen tertentu dengan ibu lain : kalau ibu tersebut melakukan pola asuh A, apakah akan merugikan saya dan masyarakat?

Kalau enggak, ya sudah, nggak usah ribut.

Misal, ketika seseorang memilih untuk menggunakan epidural saat melahirkan, apakah merugikan saya? Masyarakat lain? Kalau jawabannya enggak, saya memilih diem. Ketika seorang ibu memilih menggunakan sufor, apakan merugikan saya? Kalau enggak, saya mingkem dan seterusnya. Satu-satunya (sejauh saya ingat) yang pernah saya kritik adalah  soal pilihan orangtua untuk tidak memvaksin anaknya. Ini nggak lain, karena saat saya mengajukan pertanyaan : apakah akan merugikan saya dan orang lain, jawabannya adalah iya. BTW, silakan baca posting Grace Melia yang terkena rubella saat hamil : Pesan dari ibu yang terkena rubella saat hamil.

BACA JUGA : SETAHUN MENYUSUI : DARI FREEZER YANG TIDAK PERNAH PENUH SAMPAI TIDAK RELA MENYAPIH

Gicu. Mompetition mah hindari aja deh, biar tetap waras, buibuk! :D

Anyway, ini dia poster untuk Kampanye Mompetition karya Tisya Hanafie.






2 komentar:

Fiberti CH mengatakan...

Pusing ya mom. Kenapa tidak ada dadpetition ya? Apa sebabnya?

okke sepatumerah mengatakan...

Dugaan awal gue memang nggak ada, karena dalam masyarakat dikondisikan kompetisi antarpria itu terjadi di luar ranah domestik. Partner gue pun tipe yang cuek, jadi gue gak pernah liat dia panas-panasan soal apapun. Tapi ternyata, teman gue yang sudah bapak-bapak bilang ternyata ada, mulai dari membanggakan skill otomotif anak, anak yang hafal pemain MU dan lain-lain.