Laman

Selasa, Oktober 17, 2017

4 Alasan Kenapa Ngomentarin Tampilan Fisik Anak Itu Nggak Penting



There are thousands of good-looking women out there. Longevity for a heroine doesn't come only with good looks: talent matters. - Samantha Ruth Prabhu

....Lalu ngapain juga ngomentari soal fisik dan penampilan anak? Ga pentiiiing!
"Ih, si adek mah putih, nggak kayak kamu, item!" ujar perempuan itu. Ia adalah tetangga ibu saya; dan saya baru bertemu dengannya kali itu, saat saya dan putri saya berkunjung. Ia membandingkan warna kulit putrinya dengan putri saya.

Waktu itu saya cuma diam, karena nggak kenal-kenal amat.

Saya tau terangnya warna kulit putri saya itu sementara. Waktu itu usianya setahun kurang, belum panas-panasan. Sekarang, beberapa bulan kemudian, setelah ia sudah lancar jalan dan sering main di lapangan, kulitnya sudah sedikit menggelap. Saya yakin, sebentar lagi ia akan semakin menggelap dengan bonus bau matahari. Sudah ada tanda-tandanya. Bhahak.

Tapi sejujurnya, saya nggak sreg juga sih. Ngapain juga membandingkan kondisi anak dengan anak lain? Lalu ngapain juga ngomentari soal fisik dan penampilan anak? Ga pentiiiing!

Anyway, setelah punya anak, saya baru memperhatikan bahwa orang dewasa ini punya kencederungan ngomentarin penampilan ya kalau berinteraksi dengan anak? Misalnya, baru pertama kali bertemu dengan si anak, maka yang dipakai sebagai pembuka interaksi adalah soal fisik.

'Ihh, pipina chubby, gemets...'
'Bajunya bagus banget yaaa?'
'Ya ampun tangannya gendud kayak roti sobek....'

Iya, sih, namanya juga berbicara dengan anak-anak, nggak mungkin juga membahas isu politik yang lagi panas. Tapi ada kok hal lain yang bisa diangkat, seperti menanyakan umur, sekolah, lagu kesukaan, makanan kesukaan, binatang kesukaan, warna kesukaan dan lain-lain. Anaknya belum bisa ngomong? Ya ajak saja tos. Kelar. :D

Buat saya, mengomentari tampilan anak, baik itu komentar positif (seperti menyebutnya cantik, atau bajunya bagus atau badannya tinggi), juga komentar negatif (seperti menyebutnya 'Si Gendut', 'Si Item' atau 'Si Pendek') itu nggak penting. Hal ini saya terapkan pada anak saya.

Mungkin saya dan partner memang berjodoh, karena tanpa kesepakatan sebelumnya, bahkan tanpa pernah diobrolin, ia juga menganggap komentar atas kondisi/tampilan fisik anak kami itu nggak penting. Hal ini terungkap beberapa bulan yang lalu, saat ada saudara yang mengajarkannya untuk menyebut dirinya 'Cantik...', sambil mengelus pipi. Waktu itu dia mendelik sambil sewot 'Ngapain sih?'



Dari sana, di malam harinya, kami mengobrol. Dan ujung-ujungnya, kami memutuskan untuk secara resmi menerapkan kebijakan agar nggak usah merisaukan/melebih-lebihkan apa pun yang berkenaan dengan 'permukaan' anak kami.  Lalu sebisa mungkin memberi tahu orang di sekitar kami untuk melakukan hal yang sama.

Why?

Ini dia beberapa alasannya.

(1) Kami ingin anak kami nggak bertingkah ngeselin gara-gara terlalu bangga dengan fisik.
Katanya bagi seorang ibu, anak perempuannyalah yang paling cantik sedunia apa pun yang terjadi. Saat sang anak cemong bedak semuka, bagi ibunya tetap saja ia cantik. Betul? :))

Tapi buat saya, pujian 'Kamu cantik...', apa lagi jika terlalu sering, bisa membuat anak saya GR kemudian bersikap ngeselin.

Saya pernah berinteraksi dengan seorang bocah cewek cantik fisik, yang sadar bahwa ia cantik (karena semua orang kerap --- bahkan terlalu sering--- memujinya demikian).  Usianya sekitar sepuluh tahunan. Ia arogan dan hanya mau berteman dengan pemujanya. Jika ada yang memiliki pendapat berbeda, kalimat andalannya adalah 'Ah, orang cantik mah banyak yang iri, biasa itu sih...'

Kan nyebelin? Asli pengin jitak dengernya. Tingkah yang sama saya temukan pada beberapa anak yang mendapat pujian yang sama.

Saya dan partner nggak pengin pujian cantik membuat putri saya tidak rendah hati.

Bukan berarti saya nggak pernah memuji, sih. Pernah! Sering malah. Pujian yang pernah saya lontarkan seringnya sih 'Aduh, keren (atau jagoan) amat kamu!', terutama kalau saya melihat progress pada skill berbicara atau motoris.

Soal pujian ini, saya jadi ingat obrolan dengan seorang kawan. Menurutnya memuji cantik sekali dua kali tidak apa-apa; untuk menambah kepercayaan dirinya. Kawan saya berpendapat, pujian cantik yang diterima anak ngeselin yang saya ceritakan di atas overdosis sehingga perilakunya demikian.

Well, mungkin.  Tapi daripada pujian cantik, mungkin saya lebih memilih adjective lainnya : keren, cool, kocak, berani, dan baik misalnya.

Lalu, dari pada pujian 'cantik' (dan 'pintar' jika anak mendapat nilai baik di sekolah), yang mengarah ke pujian terhadap hasil akhir, saya sih lebih memilih pujian terhadap proses. Misal, ketika anak saya membereskan mainannya, walau pun masih acak-acakan, ya saya puji 'Keren euy, beresin mainan sendiri...' (sambil, tentunya, saya bereskan ulang mainan-mainan tersebut) :D

(2) Kami ingin anak kami nggak melakukan body shaming, mendiskriminasi (apa lagi sampai mem-bully) orang yang dianggap tidak sesuai dengan standar cantik oleh masyarakat.


Seumur saya hidup, dari SD sampai sekarang, saya selalu menemukan sosok-sosok yang diperlakukan tidak baik gara-gara urusan fisik dan penampilan. Entah itu karena bertubuh lebih bongsor dari teman-teman seusia, berkulit gelap, berambut keriting, bertubuh pendek dan lain sebagainya. Ada yang diledek-ledek bercanda, ada juga yang sampai di-bully. Saya ingat betul kawan SD saya, yang bongsor Dan kumal, sampai mengamuk. Saya pun ingat kawan SMU saya, cowok bertubuh besar dan berikut gelap sampai menangis sambil berkata 'Gue teh salah apa sama kalian? Kalian kenapa jahat gitu?' (Padahal sejauh yang saya ingat, dia adalah orang yang baik hati dan penyabar)


Sayangnya waktu itu saya menjadi silent bully, tidak secara aktif menyerang, namun melihat hal tersebut terjadi, saya diam saja karena takut.

Sebenernya saya pun nggak bebas-bebas amat dari dosa mengomentari tampilan orang lain. Sekali dua kali pernah saya  melontarkan komentar tampilan. Kini setelah punya anak, saya berhenti total. Well, sepertinya anak bikin saya insyaf untuk banyak hal, karena saya ingin jadi contoh untuknya. :D

Anyway, dengan tidak pernah merisaukan kondisi fisik dan penampilan anak kami (dan orang lain), kami ingin memberi contoh padanya, bahwa kami tidak menilai orang dari kondisi permukaan seseorang. Cara kami memperlakukan dirinya (dan orang lain) pun tidak berdasarkan tampilan.

Saya beneran berharap, anak saya, selain tidak memperlakukan orang dengan buruk, juga bisa lebih berani dari saya untuk bersuara jika melihat ketidakadilan terjadi di depan matanya.

(3) Kami nggak ingin anak kami punya body image yang negatif.

Hal ini tentu saja berkaitan dengan ledekan fisik seperti 'Si nDut.', 'Si Item' dan lain-lain. Saya yakin, olokan apa pun (bahkan jika 'cuma bercanda'), jika diucapkan secara berulang-ulang maka lama kelamaan akan diinternalisasi oleh seseorang. Kemudian, ujung-ujungnya akan dianggap sebagai kenyataan dirinya. Akan sangat menyedihkan ketika seseorang menganggap tubuhnya buruk, gara-gara meyakini olok-olokan atau julukan yang diterimanya dari lingkungan. Lebih menyedihkan lagi ketika kemudian ia memiliki rasa percaya diri rendah, bahkan sampai rela melakukan cara apa pun untuk 'memperbaiki' dirinya. Menjadi penderita anorexia atau bulimia, misalnya, atau memiliki ketergantungan terhadap kosmetik, ingin melakukan operasi plastik dan lain sebagainya.

(4) Kami ingin anak kami bebas bereksplorasi, tanpa mengkhawatirkan akibatnya pada fisik/penampilan.
Saya nggak mau sampai anak saya takut bermain di bawah sinar matahari karena takut hitam, saya nggak mau dia takut makan karena takut gendut, saya nggak mau dia hanya berdiam diri bermanis-manis di rumah karena takut jatuh dan lukanya meninggalkan parut di kulit. Kami nggak mau gara-gara  terlalu mikirin penampilan, dia sampai tidak mau mengeksplor dunia. (TSAH!~)

Selain tidak merisaukan soal fisik, kami pun tidak meributkan soal penampilan aka pakaian. Kami membiarkannya bermain sampai baju kotor bahkan sobek. Makanya saya termasuk juwarang memakaikannya baju-baju cewek yang keren (dan mahal), soalnya bisa-bisa saya senewen, khawatir baju mahal tersebut hancur atau kotor blas gegara dia berguling-guling di rumput. Ya, the name is mother-mother yes? Namanya juga ibu-ibu, soal pengeluaran dipikirin banget :)))

Anyway, kami tahu pada akhirnya ia akan bertumbuh dan berkembang dalam masyarakat, tentunya --- suka tidak suka --- ia akan terpapar budaya terlalu mementingkan tampilan. Ia akan hidup di tengah masyarakat yang bakal melihat permukaan. Nggak apa-apa, setidaknya (semoga) cara kami membesarkannya dengan tidak mentingin fisik, bisa menjadi dasar baginya untuk berpikir, mengambil keputusan, bertindak dan bertanggungjawab atas perilakunya dalam masyarakat.



2 komentar:

Ria Rizki mengatakan...

Ini saya ngalamin banget, anakku dua, kebetulan si kakak kulitnya dr lahir memang kulit khas Indonesia yg sawo matang gitu..anyway saya & suami kayaknya sama sekali gak masalah, na begitu si adek lahir dan kebetulan kulit si adek putih, mulai deh orang di sekitar mbandingin (walaupun bercanda ya), tp tetep aja kesel..

Pernah lo sampe si kakak lg pegang spidol dua, satu warna item satunya warna biru kl gak salah, trus dia bilang,"aku yg item spidolnya, kulitku kan hitam".Hiks.

sekarang si adek sdh mulai menggelap..ya kali anak dh bs lari" masak ya iya tetep putih, eh mungkin sih kalo nggak dibolehin keluar rumah. Sekarang gantian orang" komentar "lo kok adek sekarang coklat sih.. panas-panasan terus ya..eman kulitnya". Duh. Rempong sekali yaa people jamam now

okke sepatumerah mengatakan...

@Ria Rizki : Hai, thank you udah baca. Iya, kebiasaan muji fisik adalah salah satu yang bikin anak cuma menghargai hasil akhir, sama kayak muji 'pintar' kalau anak dapet nilai bagus. Ujung-ujungnya, dia bakal ngelakuin apa pun untuk mendapatkan hasil akhir yang oke. Saya sih, lebih milih memuji proses anak bisa melakukan sesuatu, kayak beresin mainan, walau hasilnya tetap acak-acakan, ya tetep saya puji 'Keren euy, udah beresin mainan sendiri' (sambil beresin ulang mainannya hahaha :D)