Laman

Senin, November 19, 2018

Perempuan, Ujung-ujungnya Jangan Cuma ke Dapur!



....kalau ada yang ngomong "Saat wanita lelah bekerja,  maka ia hanya ingin dinikahi.", rasanya saya gatel pengin nyeletuk : 'Cinderella, is that you?"
Mungkin pada masih ingat, beberapa bulan yang lalu sempat viral meme di Instagram dengan teks : "Saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi."

So, kalau ada perempuan yang ngomong begitu, respons buibuk gimana?

Kalau saya sejujurnya gatel pengin nyeletuk : 'Cinderella, is that you?"

Kalau respons beberapa kawan saya lain lagi : 'Kalau capek ya pijet, bukan kewong..."

Haha.

Respons para netyzen beragam, ada yang pro dan ada yang kontra.

Gimana saya? Ya, dengan respons yang kayak gitu, ketebaklah, ya, saya kubu yang kontra. Ciye kubu-kubuan.

Kemudian saya pun iseng, share meme tersebut di Facecbook setealah saya tambahkan dengan posting Ferry Salim yang ngepas. Ini dia



Sejujurnya, saya posting cuma buat lucu-lucuan aja, nggak mengharap direspons serius. Cuma, ternyata jadinya saya terlibat adu komen dengan seorang perempuan. Intinya, dia bilang, seharusnya saya menghargai pilihan orang, kalau memang orangnya memang maunya menikah karena capek kerja, kenapa musti dicemooh (melalui postingan saya)?

Ngng. Ya maab, namanya juga becanda ya, Mbaak. Wajar kan, kalau seseorang kontra sama sesuatu, maka dia ngeluarin macem-macem ledekan soal ini? Ya lihat aja pendukung capres dan cawapres yang sangat produktif ngeluarin meme untuk meledek capres/cawapres kubu lawan. Ye kan? :)))

Anyway, kenapa saya kontra (dan mencemooh) meme tersebut?

Sebenarnya kalau dibaca-baca lagi, meme semacam mengamini satu kalimat jadul : 'Perempuan ngapain susah-susah sekolah, kalau ujung-ujungnya ke dapur juga?'. Siapa sih yang nggak pernah denger kalimat ngeselin ini?

Kita hidup dalam masyarakat yang pro domestifikasi perempuan, yang menganggap perempuan tempatnya hanyalah di ranah domestik. Kasarnya, perempuan itu hidupnya hanya untuk nyari pasangan hidup, dikawin, beranak dan ngurusin rumah tangga. Selesai.

Budaya ini kemudian dianggap sebagai hal yang normal/seharusnya demikian, sehingga nggak cowok, nggak cewek, mikirnya begitu. Yang anehnya lagi, kayaknya gaungnya semakin kenceng ya belakangan ini? Banyak banget deh ajakan-ajakan agar perempuan 'kembali' ke rumah. Hedeuh. Itu kasian banget lho, Kartini, sudah capek-capek memperjuangkan emansipasi. :(

Lalu, kenapa saya kontra sama pola pikir seperti itu?

Karena pola pikir tersebut bahaya buat perempuan. Toxic kalau kata Awkarin sih.

Toxic-nya gimana?

#1 Bikin perempuan mandeg, nggak mengembangkan diri.
Ketika seorang perempuan sudah berpikir bahwa tujuan hidupnya semata hanya untuk kawin-kawin-kawin, maka bisa dipastikan dia nggak bakal mau mikirin cara mengembangkan dirinya.Dia nggak bakal mau mencari cara untuk memikirkan gimana dia bisa mengembangkan minat, potensi, bakat, passion endeswey-endesbre. Fokusnya cuma satu : nungguin dan nyari orang yang mau ngawinin. Sekolah dan kerja dimanfaatkan sebagai pengisi waktu  nungguin calon suami. Ciye, situ Cinderella dan teman-temannya? Saya pribadi sih ngerasa, sayang banget lho, sudah dilahirkan di dunia, tapi mendedikasikan diri sepenuhnya cuma  ke permasalahan kawin-beranak.

#2 Bikin perempuan bermental dependen dan nggak siap menghadapi kesulitan hidup sendirian
Dulu saya sempat menjadi asisten kawan saya yang fasilitator pelatihan keterampilan tangan. Peserta pelatihannya itu perempuan-perempuan usia 18-23 tahun. Dari beberapa hari pelatihan, saya banyak mendapatkan cerita, baik via para peserta, mau pun via para fasilitator. Rata-rata peserta adalah perempuan-perempuan yang dicerai/ditinggal suami. Mereka menikah di usia belasan tanpa skill apa pun yang memungkinkan mereka mandiri secara finansial. Bisa ketebak lah, begitu dicerai/ditinggal suami, mereka jadi tidak berdaya.

Nggak ada yang tau apa yang bakal terjadi di masa yang akan datang. Bisa aja sekarang kawin sama trah Bakri, tau-tau besoknya bangkrut total. Bisa aja sekarang suami sehat walafiat untuk cari nafkah, tau-tau minggu depannya sakit total. Bisa juga sekarang kerja dengan level jabatan oke, tau-tau bulan depannya di-PHK.

Kalau nggak punya bekal? Modyaro.

#3 Bikin perempuan stress kalau nggak dapet-dapet pasangan.
Ya, karena menganggap bahwa tujuan hidup perempuan itu menikah (dan dihidupi oleh suami), maka ketika nggak kunjung dapat pasangan, maka dia stress. Ini true story, dseorang kenalan berubah menjadi perempuan yang needy. Setiap dekat dengan cowok, bawaannya pengin dikawin. Ujung-ujungnya dia jadi desperate, mau dinikahi oleh siapa saja, tanpa menyeleksi pasangannya.

#4 Bikin perempuan lebih memprioritaskan pasangan yang bisa menghidupi (dan mengabaikan kriteria baik lainnya)
Punya kriteria-kriteria tertentu untuk pasangan hidup itu wajar banget. Yang cakeplah, yang humoris, yang romantis, yang nganu dan nganu. Kriteria 'punya penghasilan' pun oke juga; realistis ajalah ya, apa-apa sekarang pakai duit, kalau calon pasangan bokek kan berabe. Namun, ketika seorang perempuan memang udah punya target untuk menggantungkan kehidupannya pada pasangan hidup, jadinya kriteria 'bisa jadi ATM' bakal dapat porsi yang besar, bahkan bisa menempati prioritas utama, mengalahkan kriteria-kriteria penting lainnya dalam membangun hubungan suami istri.
 
Ya ampun, bisa jadi ATM tapi abusif. Bisa jadi ATM tapi jadi istri ke sekian. Bisa jadi ATM tapi tukang selingkuh. Mikirinnya juga sakit kepala.

Gitu deh.

Buat saya, perempuan --- mau pun laki-laki --- lahir sendiri sebagai manusia yang utuh, bukan sebagian dari kehidupan pihak lain. Jadi, baik laki-laki, mau pun perempuan, seharusnya punya mental independen dalam menjalani kehidupan masing-masing. Hal ini sering saya sampaikan kepada mahasiswi-mahasiswi saya. Bahkan ketika saya melahirkan anak perempuan saya (dan sekarang membesarkannya), pola pikir saya tetap demikian. Saya sedang membentuk anak saya untuk menjadi individu yang independent, yang siap menghadapi tantangan kehidupannya sendiri.

Saya menulis ini bukan berarti sedang menyuruh para perempuan nggak kawin yes? Kawin nggak kawin adalah keputusan pribadi. Namun, alangkah baiknya ketika mengambil keputusan untuk menikah bukan karena untuk mencari gelantungan hidup, tapi mencari pasangan yang setara, saling membangun dan asyique untuk mengarungi kehidupan pernikahan yang kompleks ini. Lalu, kalau nantinya perempuan tersebut memutuskan menikah dan akan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu gimana? Ya enggak apa-apa, bebas sik. Mental independent itu bikin seseorang berdaya di segala kondisi kok!

Jadi, kalau capek kerja, ke spa aja atau pijet. yes? Jangan kawin. Atau maksud mbaknya 'capek' itu 'muak' ya? Sampai mau melarikan diri segala. Ya makanya, luangkan waktu untuk kenali minat, potensi dan lain-lain, supaya bisa dapat pekerjaan yang nggak bikin muak.

TSAH!







Kamis, November 01, 2018

Mengurus Anak Tanpa dan Dengan Bantuan : Pros & Cons

 The reason child care is such a loaded issue is that when we talk about it, we are always tacitly talking about motherhood. And when we're talking about motherhood we're always tacitly assuming that child care must be a very dim second to full-time mother care. - Anna Quindlen

....mengasuh sendiri, dengan bantuan nanny, atau dimasukan ke daycare, mana yang paling benar dan paling salah? Nggak ada. Yang ada itu yang paling cocok dengan kondisi keluarga.
"Wah ngurus anak sendiri ya? Emang paling bener tuh ngurus anak sendiri deh, nggak usah pake nanny atau masukin daycare segala." ujar seorang kerabat di salah satu sesi mengobrol basa-basi.

Ya, untuk masalah mengurus anak, sebagian besar saya dan partner lakukan secara mandiri. Ini komitmen kami berdua sejak awal.

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan kebingungan; gimana caranya tetap ngurus anak sendiri, sementara saya dan partner sama-sama bekerja? Yang dipertanyakan tentunya, dengan siapa si anak, kalau kami kerja?

Mungkin harus dijelaskan kondisinya. Jadi, waktu kerja saya dan partner memungkinkan kami untuk bergantian menjaga. Saat saya mengajar, partner yang menjaga anak. Sebaliknya, saat partner ada klien, saya yang stand by. Aselik, di saat jadwal sama-sama padat, sudah kayak aplusan pekerja pabrik deh. Saya pulang, dia pergi. Dia pulang saya pergi :))

Saya bilang 'sebagian besar' ya. Jadi tentyu saja masih ada bantuan pihak lain, modyar aja kalau enggak. Biasanya pihak yang suka ketiban pulung dimintain tolong adalah orangtua saya atau mertua. Ini kondisinya kalau kebetulan saya harus mengajar dan dia ada klien. Atau ketika salah satu harus kerja, yang satunya lagi nggak fit atau kecapekan banget.

Balik lagi, untuk yang suka bilang 'Memang yang paling bener ngurus anak full sendiri!', rasanya saya pengin bilang 'Ah macaciy?'.

Satu sisi, iya, saya merasa ada positifnya mengurus anak sendiri. Tapi, kalau dari yang saya rasakan, mengurus anak sendiri itu juga nggak segitunya paling bener deh, apa lagi kalau saya sedang capek fisik dan mental. Bawaannya ngomel melele. Paling bener dari mana coba kalau begitu?

Beberapa kali saya ingin memasukkan anak saya ke day care, tapi ragu.

Iseng saya mengangkat topik ini di Instastory. Saya pengin lihat pandangan ibu-ibu tentang positif dan negatifnya mengasuh anak sendiri, dibantu oleh nanny/ART, dibantu oleh ortu/mertua dan dimasukan ke daycare.Yang respons banyak biyanget.

Saya bahas satu-satu ya. Catatan penting, semua ini adalah hasil curhat buibuk di Instagram ya. Untuk part yang ngurus anak sendiri, saya gabungkan dengan pengalaman saya. Jadi bukan asumsi saya doang.
Oke, kita bahas duluan PROS and CONS ngurus anak sendiri yes?


PROS
1. Kendali pola dan metode asuh sepenuhnya ada di tangan orangtua. minim intervensi dan konflik. Orangtua bisa bersikap anak aing, kumaha aing. (anak saya gimana saya)

Untuk kasus saya : mau pola asuh yang lintas batas gender, ya bisa. Mau minim screen time, ya bisa (tapi kalau kemudian berubah pikiran, dan ngasih lihat Youtube karena capek, ya bisa juga. Bebas, gimana saya.)




Kayaknya sih, sebelum punya anak itu waktu yang paling tepat untuk bercita-cita ideal soal parenting, karena begitu punya anak... bubar! Bye bye segala teori. . Sebelum #Lilo lahir, #Mamamo bercita-cita untuk menerapkan aturan no gadget, dan yes to aktivitas motorik non gadget dan sosialisasi. Tapi, realitasnya, ngikutin gerak Lilo kemana pun dia pergi itu capek, Buibuk~! Motherhood berubah jadi #modyarhood pokoknya sih. . Akhirnya Mamamo pun mulai ngasih Lilo gadget. Dia diizinin nonton beberapa tayangan yang ramah anak di Youtube. . Tapi tetep juga nggak dilepas gitu aja, sik. Karena sistem algoritma Youtube bisa bikin tayangan berpindah ke macam-macam video dan bukan nggak mungkin bisa berakhir ke video yang nggak layak tonton anak. Nggak mau kan anak kita tiba-tiba kesasar ke video Elsa dan Spiderman yang bermesraan? Terus Mamamo ngerasa, ada tayangan-tayangan yang bikin Lilo terhipnotis, kayak tayangan surprised eggs gitu. . Karena itu, sebelum ngasih Lilo nonton, Mamamo sudah memilih tayangan (dan tonton duluan) sampai habis, lalu download. Jadi ketika Lilo nonton, dia nggak nonton online. Mobile data dan wifi pun Mamamo matikan. Gitu, jadi Lilo anteng nonton, Mamamo bisa nemenin sambil selonjoran sejenak. Semua pun senang. . BTW, buibuk punya kebijakan apa buat anak dalam pemakaian gadget? Share yuk! . . #Parentalk #MillennialParenting #Parentalkxmamamolilo
A post shared by Mamamo & Lilo (@mamamolilo) on

2. Bonding dengan anak sangat tinggi.
Yaiyalah, sudah pasti orang yang paling dekat dengan anak ya orangtua, orang paling besar ngapa-ngapain sama orangtuanya.

Lilo, nih, kalau lagi sedih cari saya atau bapaknya, gembira cari saya atau bapaknya, excited pun demikian. Marah? Kzl? Saya dan partner deh yang diomel-omelin.

3. Minim rasa waswas, karena si anak kan ada di bawah pengawasan orangtuanya.
Pun ketika saya harus kerja dan Lilo ditinggal bersama bapaknya, saya tetap merasa Lilo berada di tangan yang benar. Walau pun baju nggak matching dan agak acem karena mandi seadanya. :))))

4. Nggak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk meng-hire pengasuh.

CONS
1. CAPEK!  
Yes, kalau intensif mengurus anak sendiri itu capek fisik dan mental. Selain capek harus ikut lompat kodok, main petak umpet, ngejar sepeda dan lain sebagainya, juga capek ngadepin emotional meltdowns, tantrum, kekhawatiran akan masa depan, rasa bersalah dan semua-semuanya. Campur aduk. Efeknya apa coba? Iya, kadang anak nggak ter-stimulasi dengan konsisten dan variatif. Kalau saya sih, cuma didongengin, diajak ngobrol, diajak lelarian, diajak eksplorasi ke tempat-tempat baru. Pokoknya stimulasinya yang nggak membutuhkan persiapan terlalu printilan, plus nggak juga perlu beberes terlalu heboh. Padahal saya sudah beli berbagai macam buku yang isinya macam-macam aktivitas untuk menstimulasi anak, tapi ya.... males. Capek.
2. Susah me-time.
Ya gimana mau me-time, kalau anak nempel terus, ke toilet aja dicariin. (Untunglah saya bekerja, jadi bisa menghela napas sedikit. Jadi me-time saya dan partner itu saat kerja).
3. Susah our time.
Karena terlalu terbiasa bersama dengan orangtuanya (baik salah satu, atau dua-duanya), anak biasanya  insecured kalau dua-duanya menampilkan gelagat mau pergi berduaan doang. Kalo Lilo ngeliat saya dan partner kayak mau pergi, beuh, langsung deh, nenen nggak kelar-kelar.
4. Pergaulannya sempit.
Mainnya cuma sama orangtuanya lagi, orangtuanya lagi. Kalau saya sih ada tiga anak tetangga yang suka main juga. Mayan, lah ya? :))


PROS and CONS mengasuh anak dengan bantuan ART/Nanny

PROS
1. Lebih nggak capek fisik dan ibu bisa 'menghela napas' karena nggak semua hal yang berhubungan dengan anak, dari bangun tidur sampai tidur lagi, harus dilakukan sendiri.
2. Bisa me-time, anak tinggal titip ke pengasuhnya. Me-time adalah koentji kewarasan para ibu.
3. Anak bisa ketemu orang lain, selain orangtua

CONS
1. Pola dan metode asuh suka berbeda, kudu bisa kompromi. 
 Ketika orangtua punya idealisme sendiri, belum tentu pengasuh bakal ngikutin. Kalau dari contoh yang di-share oleh buibuk di sesi Instacurhat sih, dia nggak ingin anak dibatasi atau dilarang-larang, sementara sang pengasuh takut anaknya jatuh dan dimarahi sang majikan.
2. Nanny terutama yang non-profesional/ART seringnya hanya menjaga, tidak menstimulasi anak, sehingga perkembangan anak bisa terlambat.
3. Jika nanny/ART yang mengasuh punya kebiasaan yang bagi kita buruk dan dibawa saat mengasuh, bisa-bisa anak kita terpengaruh. Contoh yang diberikan di Instacurhat : pengasuh doyan nonton shitnetron dan film azab-azaban, sehingga si anak doyan juga.
4. Harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengasuh anak. Semakin pro nanny yang di-hire, ya semakin dalam rogoh kantong, 

PROS and CONS mengasuh anak dibantu orangtua/mertua

PROS
1. Diasuh dengan penuh kasih sayang, segala kebutuhannya pasti dipenuhi.
2. Bisa mendekatkan/mempererat hubungan anak dengan kakek-neneknya.
3. Bikin happy orangtua/mertua di hari tuanya.
4. Bisa konsultasi (atau minimal melihat perspektif lain) pola pengasuhan, cara penanganan kondisi sakit atau apa pun berdasarkan pengalaman mereka punya anak.
5. Tidak usah mengeluarkan uang banyak-banyak (tapi ya tau diri aja sik. HAHA)

CONS
1. Buat ortu kekinian, yang ikrib dengan buku-buku parenting pasti bakal punya idealisme sendiri, kadang suka berbeda dengan pola asuh mertua/ortu. Seringnya menimbulkan konflik yang malah merenggangkan hubungan kita dengan orangtua kita.
2. Kakek-nenek sering terlalu memanjakan/kontrol disiplin rendah.
3. Kalau keseringan/kelamaan, kakek dan nenek bisa capek dan sebel juga.

Sebenarnya saya punya pengalaman sendiri soal mengasuh anak dibantu orangtua dan mertua. Iya, saat itu konflik heboh, namun konflik-konflik tersebut ujung-ujungnya membuka komunikasi antar pihak saya dan mereka. Sehingga sekarang, pola asuh saya dan mereka sangat sejalan. Tapi ini akan saya pisah jadi satu posting tersendiri.

PROS and CONS menitipkan anak ke day care.

PROS
1. Anak terstimulasi dengan baik, konsisten, dengan metode variatif sesuai buku-buku pendidikan anak (tanpa orangtua harus riweuh persiapan. HAHA)
2. Anak belajar sosialisasi dengan teman-temannya.
3. Anak jadi mandiri.

CONS
1. Anak gampang ketularan penyakit dari teman-temannya.
2. Akan ada peristiwa anak benjut atau luka karena jatuh atau berantem dengan temannya.
3. Anak meng-copy dari pergaulan. Kalau ada teman yang suka ngomong kasar, anak ikutan.

Sejujurnya sharing di Instacurhat ini, cukup membuka mata saya, bahwa mengasuh sendiri, dengan bantuan nanny, dengan bantuan orangtua, atau dimasukan ke daycare masing-masing ada kekurang dan kelebihannya. Nggak ada satu pun yang 'paling benar', yang ada itu yang paling cocok atau pas  dengan kondisi keluarga.

Dan sharing ini juga bisa membuat saya menguji keputusan saya dan membuat saya semakin yakin, bahwa setidaknya untuk sekarang, yang paling tepat ya memang mengasuh sendiri. Yaiyalah, waktu bekerja sama-sama fleksibel, masing-masing masih bisa juga punya me-time sehingga nggak burnt-out, punya idealisme (yang cukup kenceng) soal pola asuh sendiri, nggak percayaan sama orang lain yang bukan orangtua kandung kami. Buat apa ngeluarin duit lebih, kalau kondisinya memungkinkan untuk mengasuh sendiri? Ye kan?

Mungkin buibuk yang berencana punya anak, melalui posting ini, bisa melihat juga, mana yang paling cocok.

:)

Senin, Oktober 22, 2018

Moana dan 5 pelajaran Bagus-nya Buat Anak Saya


You may hear a voice inside
And if the voice starts to whisper
To follow the farthest star
Moana, that voice inside is
Who you are

(Where You Are - Grandma Tala)

...Saya ingin anak saya belajar untuk mencari panggilan hidupnya dan mengikutinya. Persetan dengan template lahir-sekolah-kerja-kawin dalam masyarakat..
Jadi, Lilo ini lagi tergila-gila Moana. Entah udah berapa puluh kali dia nonton Moana. Kalau nonton Youtube pun, pasti ujung-ujungnya ke clip film Moana, atau video-video soundtrack-nya film tersebut.

Kemudian, dia mulai mengidentifikasikan dirinya menjadi Moana, dilanjutkan dengan permainan role-playing berlayar di samudra. Bapaknya menjadi Maui, sang demi god.

Lalu, saya (disuruh) jadi apa?

Uhuk.


via GIPHY

YHA! Saya disuruh jadi Heihei, si ayam bloon yang jadi teman Moana selama perjalanan. Ya sudahlah ya, apa pun yang bikin anak saya senang.

Ngomong-ngomong, Moana ini adalah film Disney's princess pertama yang saya approved untuk ditonton oleh Lilo. Nanti-nantinya mungkin Brave, Frozen, Princess and The Frog, Tangled, Mulan, dan Pochahontas

Yang saya nggak approved itu ya princess klasiknya Disney yang ngasih pesan misleading tentang menjadi perempuan. Semua-semua ngasih pesan bahwa cowok/cari suami adalah hal terpenting dalam kehidupan seorang perempuan. Hah, please.

Haha, maafkan, saya memang antipati sama princess klasik Disney's, entah itu Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty, Little Mermaid dan Beauty and The Beast.

BACA JUGA : ANTARA FILM PRINCESS DISNEY KLASIK DAN PESAN MORAL DI DALAMNYA.

Kenapa Moana saya approved? Ya, ada beberapa poin, baik dari cerita, mau pun soundtrack-nya yang kata saya bagus dan bisa jadi pelajaran bagi anak saya agar bertumbuh sebagai individu yang menyadari minat, bakat dan potensi serta memanfaatkannya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kehidupannya sepenuh-penuhnya. Ahzeg.

Apa saja?

1. Bahwa urusan perempuan bukan urusan cari suami doang!
Satu hal yang saya suka dari film Moana adalah.... sama sekali nggak ada love interest! Nggak ada pangeran, nggak ada kisah cecintaan bahkan sebagai bumbu sekali pun. Yay! Di sini malah fokusnya ke usaha Moana untuk menyelamatkan rakyatnya.

Semoga Lilo tumbuh menjadi anak yang enggak takut jomblo dan enggak kebelet kawin, sampai melupakan hal-hal penting lain yang harus dan mampu ia lakukan!

2. Bahwa hidup orang itu nggak ada template-nya, beda-beda setiap orang, tergantung gimana panggilan hidupnya.
Selalu ada anggapan bahwa cetakan jalan kehidupan setiap orang (terutama perempuan) itu ya gitu : lahir, sekolah, lulus, kerja, nikah, punya anak, sekolahin anak, ngawinin anak, punya cucu daan seterusnya begitu. Makanya sering terjadi pengabaian terhadap panggilan hidup setiap orang.

Nggak setiap orang pengin beranak-pinak, cuma gegara entah ada kesepakatan template jalan hidup, maka orang yang demikian dianggap aneh.

Bahkan Moana aja merasa ada yang salah dengan dirinya.

I know everybody on this island, seems so happy on this island
Everything is by design
I know everybody on this island has a role on this island
So maybe I can roll with mine
I can lead with pride, I can make us strong
I'll be satisfied if I play along
But the voice inside sings a different song
What is wrong with me?
(How far I'll go-Auli'i Cravalho)

Dan pada akhirnya, ternyata Moana nggak salah tuh, punya panggilan hidup berlayar. Ye kan?

Saya ingin anak saya belajar untuk mencari panggilan hidupnya dan mengikutinya. Persetan dengan template lahir-sekolah-kerja-kawin dalam masyarakat.

3. Perempuan itu boleh dan penting melakukan hal-hal yang biasanya ditujukan buat cowok.
Di film ini, Moana banyak melakukan hal-hal yang dikategorikan aktivitasnya laki-laki : memanjat, berlayar, dan lain sebagainya. Ini pas banget dengan nilai yang pengin saya ajarkan pada anak saya supaya nggak terikat pada pembagian kerja berdasarkan gender yang ada di masyarakat. Bukannya apa-apa, takutnya sih, anak saya jadi nggak leluasa menemukan dan mengembangkan minat dan potensinya karena keburu dibatasi duluan. Mungkin aja ternyata dia punya minat dan potensi di bidang otomotif, cuma gegara nggak diperkenalkan, jadinya dia nggak bisa menemukan hal tersebut.

Lagian penting juga sik menguasai beberapa hal basic, buat survival. Kayak Moana yang bisa berlayar, nggak apa-apa juga kan  anak saya bisa ganti ban. Biar nggak tergantung orang. Atau kalau nyuruh orang ganti ban, dia bisa mengamati dan berkomentar kalau ada yang nggak sesuai.

BACA JUGA : SIAPA BILANG ANAK 2 TAHUN TIDAK BISA DIAJARI FEMINISME?

4. Berprinsip teguh dan berani ngapa-ngapain Sendiri.
Anak saya nge-geng nggak apa-apa. Dulu saya juga nge-geng. Tapi dia juga sekaligus harus punya prinsip sendiri. Berteman haha-hihi oke, tapi memangnya ketika satu anggota geng-nya ngapa-ngapain, dia harus ikutan juga? Gimana kalau hal tersebut nggak sesuai hati nurani?

Saya pun nggak mau anak saya terpapar budaya ABG ke WC rame-rame; yang mau buang hajat cuma satu yang lainnya cuma nemenin. Saya mau anak saya mandiri, nggak mesti ada temen kalau mau ngapa-ngapain. Jangan sampai dia urung melakukan sesuatu gegara gak ada teman.

Moana ngasih pelajaran ini dengan cuek berlayar sendirian untuk mengembalikan hati Te-Fiti. Ya, walau pun di perjalanan dia mengajak Maui sih, tapi kan nggak dari awal dia ngajak ibu, bapak, tetangga, ibunya tetangga, bapaknya tetangga dan sekampung buat nemenin dia kan?

Saya pengin anak saya cuek dan berani melakukan apa yang perlu/ingin dilakukan, tanpa tergantung dari (approval) geng-nya.

5. Tidak menilai orang dari fisiknya.
Mulai dari tidak menganggap Heihei sebagai sosok ayam nggak berguna, sampai tidak menilai buruk Te Ka yang padahal sudah menyerangnya. Saya pengin anak saya tidak menilai segala sesuatu dari apa yang kasat mata.

Gitu deh.

Itu adalah pelajaran buat Lilo. Nah, kalau saya, sebagai orangtua, dapat apa, selain disuruh jadi ayam? 

Ada satu sih, Yang mungkin kerasa berat : jadi orangtua jangan terlalu over-protective. biarkan anak berani eksplorasi, biarkan anak pergi menjalani panggilan hidupnya sendiri.

*Sigh* 

Sesungguhnya pelajaran yang buat orangtua ini susah. Karena sebagai emak-emak, naluri ini ingin rasanya ngekepin anak sampe wisuda S-2. 

Tapi nggak bisa bijitu juga ye kan?
.

Karena sebenernya anak itu individual yang punya panggilan hidup dan 'perang'-nya  sendiri, orangtua cuma dititipin buat menyiapkannya menghadapi dunia.
.
*Kemudian mellow*

Senin, Oktober 15, 2018

Kata Mereka : Apa Yang Engkau Cari, Wahai Working Mom?

It's important for women to work. They need to keep their independence, to keep earning and being challenged. - Tamara Mellon


...setiap keluarga yang pihak ibu-nya bekerja punya solusi masing-masing soal anak yes? Nggak berarti begitu ibu bekerja maka anak jadi auto-terbengkalai.
Di satu malam yang selo, karena Lilo sudah tidur dan tidak ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan, 'jalan-jalan'-lah saya dari satu akun ke akun Instagram lain, dan berhenti di akun tirto.id, pas di infografik yang berisi tentang perempuan bekerja.

Infografiknya sih biasa, yang rame ya justru komentar-komentarnya.

Kalau dipikir-pikir,  akun IG tirto.id ini sama lho, kayak akun lambe-lambean. Komentarnya lebih seru dibandingkan posting foto dan caption-nya. Netyzen julid maha menghibur memang. HAHA.

Saya sadar sepenuhnya bahwa working mom dan stay at home mom adalah sebuah topik klise yang sudah lama diperdebatkan. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri, di mana ada forum para Bunda, tentu akan ada mommywar dengan topik (salah satunya) working mom vs stay at home mom

Apa penyebab 'perang' ini? Karena adanya gender roles tradisional, di mana laki-laki adalah breadwinner, pihak yang mencari nafkah dan penghasilan yang diperolehnya untuk menghidupi keluarga, sementara perempuan adalah pihak yang mengurus rumah tangga dan mendidik anak. 

Gender roles ini sebenarnya konstruksi sosial doang sih. Sayangnya masih banyak orang yang nggak sadar dan menganggapnya sebagai satu 'kodrat' yang nggak bisa diganggu gugat. Jadinya, working mom kemudian di-judge sosial sebagai perempuan yang menyalahi 'kodrat'. Berantem deh jadinya. Ya iya, manalah ada orang yang suka di-judge negatif.

Padahal, siapa yang kerja, siapa yang ngurus keluarga, ya gimana kesepakatan internal aja kali nggak?

Saya ada di kubu mana? Hm.

Kalau dipikir-pikir, saya adalah seorang perempuan setengah working mom dan setengah stay at home mom. Semacam amfibi gitu deh. Jadi saya netral yak, jangan digebukin. :))

Balik lagi, karena selo, saya pun menelusuri komen demi komen di posting tersebut. Syukurnya, sudah banyak (setidaknya di komentar-komentarnya) yang menyadari bahwa gender role tradisional untuk urusan nafkah-menafkahi itu cair, bisa didekonstruksi dan disesuaikan dengan kondisi.

Opini mereka yang kontra working mom kebanyakan klasik juga, dan nggak jauh-jauh dari gender roles tradisional. Namun ada satu komentar yang menarik, intinya kurang lebih mempertanyakan apa yang dicari working mom.

Apa yang engkau cari wahai, working mom? Tugasmu adalah di rumah, mendidik anak. Begitulah kura-kura.

Di sini, saya menempatkan diri sebagai working mom ya. Jadi apa alasan saya tetap bekerja? Apakah takhta dan permata? Eaak.

Ada beberapa poin yang telah saya dan partner bicarakan sebelum menikah soal saya dan pekerjaan saya, yang ujung-ujungnya membuat kami saling menyepakati bahwa saya tetap kerja, even setelah punya anak, yaitu :

Men-support kebutuhan keluarga secara finansial, apa lagiiii. Sesyungguhnya kami berdua tidaklah lahir dari trah Bakri. Butuh duit bok! Anyway, orang-orang yang kontra dengan working mom sering bilang, kalau penghasilan suami cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, walau tidak berlebih, sebaiknya istri di rumah untuk mengurus anak dan rumah tangga.

Well, penghasilan partner saya, kalau dibilang cukup ya cukup sih, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, cukup juga untuk bayar cicilan rumah. Aman kok, kalau dia doang yang bekerja.

Cuma saya dan partner membutuhkan keleluasaan finansial, sehingga kami bisa memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier plus bayar cicilan rumah, memenuhi kebutuhan masa depan dan nabung! Maruk? Mungkin.  tapi kan kalau kata Maslow, kebutuhan manusia itu bukan sekedar kebutuhan fisiologis, ye kan?

Saya, partner dan anak saya adalah individu-individu yang butuh dan harus berkembang sepenuh-penuhnya. Kami harus bukan sekedar bebas dari rasa lapar, tapi juga merasa aman dan happy plus bisa mengembangkan diri. Untuk itu kebutuhan-kebutuhan lain selain fisiologis ya harus dipenuhi dong ya?

Ahem, yang barusan saya jabarkan adalah alasan tidak egois saya, alias alasan demi kepentingan bersama.

Lalu semisal suami saya tajir melintir, apakah kemudian saya mau berhenti bekerja?

Ngng. Enggak. Karena saya punya alasan-alasan demi diri sendiri:

Saya mencintai pekerjaan saya.Terutama karena pekerjaan ini benar-benar bisa menjadi wadah saya untuk aktualisasi diri. Saya merasa potensi diri saya terus berkembang melalui pekerjaan saya, dengan berbagai macam tantangannya : keharusan untuk update perkembangan ilmu pengetahuan membuat saya banyak membaca dan cari tahu, keharusan untuk penelitian menajamkan kemampuan analisis saya, keharusan menghadapi manusia mengasah kemampun komunikasi interpersonal dan memahami orang lain, kewajiban berkarya membuat saya terus kreatif, kewajiban untuk mengabdikan ilmu untuk kepentingan masyarakat membuat saya mampu memahami masalah plus menajamkan jiwa kemanusiaan dan sosial saya, and the list goes on and on, and on.

Egois amat sik, demi aktualisasi diri sampai rela ninggalin anak.

Eh, jangan salah. Karena kebutuhan aktualisasi diri tersebut dipenuhi akibatnya nggak egois kok, yakni :

Kewarasan saya tetap terjaga.  Jadi, saya pernah ada dalam kondisi sakit dan harus terapi penyembuhan selama 6 bulan. Saya nggak bisa kerja. Apa yang terjadi? Saya kok ya malah sering sakit kepala, mudah tersinggung, mudah marah, susah tidur, susah bangun tidur dan kena eksim. Plus, ini yang parah, keinginan untuk menyakiti diri sendiri sangat besar.

Sungguhlah itu ciri-ciri stress. Dan memang setelah dicek, saya stress karena merasa tidak berguna.

Yang pertama, jelas karena tidak punya penghasilan sehingga tergantung finansial pada orang lain (keluarga), walau pun orang yang saya 'gantungi' nggak keberatan, tapi ya tetep aja sih susah menghilangkan rasa bersalah. Sudah dewasa masih ngerepotin.

Yang kedua, saya jadi minder karena ngerasa bodoh, ketinggalan jauh dari rekan-rekan sejawat, baik dari sisi skill, informasi mau pun pengetahuan. Pernah nih, dalam kondisi nggak bekerja, saya ketemuan dengan rekan-rekan sejawat dan mereka berdiskusi, saya nggak bisa ngimbangin. Mereka bergosip, saya nggak bisa nimbrung. Mau nangis.

Selain itu, saya tetap 'waras' gegara bekerja, karenaaa.... bekerja adalah me-time saya! Jadi ibu 24/7 selama bertahun-tahun itu bukan pekerjaan yang mudah. It's a tough job. The toughest job. Bok jauh lebih ringan kerja di kantor dibandingkan dengan jadi ibu. So, me-time adalah salah satu cara supaya buibuk nggak terlalu spanneng.

Saya selalu menganggap tugas mengajar di kantor adalah.. me time. Jadi selain untuk menunaikan tugas, saya pun bisa rehat sejenak dari ke-hectic-an jadi ibu. Sekali menyelam minum latte.  Kerasa banget kok, di saat saya harus full dan intensif bareng anak saya, saya jadi cepat spanneng, sementara seusai saya pulang mengajar, mau capek kayak gimana, saya emosi saya nggak cepat tersulut.

Saya rasa, kalau saya jadi stay at home mom, saya bakal kembali stress plus jadi spanneng-an. Sementara bagi saya, ibu yang baik adalah ibu yang waras, dan kalau saya nekad resign, bisa-bisa saya malah jadi ibu yang self-destructive atau lebih gawat lagi, merusak anak saya. No. No way. 

BTW, saya sempat sih sharing topik dari working mom menjadi stay at home mom, yang mancing curhat buibuk. Kebanyakan bilang, kalau sudah terbiasa kerja kemudian harus tinggal di rumah, jadinya gampang senewenan dan merasa tertinggal. Ujung-ujungnya mereka jadi working at home mom, entah buka online shop, atau ikut MLM.

Eh, tapi setiap ibu itu beda-beda yak? Ada juga sih ibu yang bisa zen menjadi stay at home mom. Kebetulan saya enggak, bahkan jadi working at home mom pun saya syulit.

Jadi bagi saya, walau pun alasan aktualisasi diri terdengar egois, tapi efeknya bisa membuat saya bahagia dan content, dan pengaruhnya, saya bisa jadi ibu yang lebih baik. :)

LALUUUU.... gimana anak saya saat saya bekerja?

Untuk kasus saya, kebetulan pekerjaan saya tidak seketat bekerja di bank yang 9 to 5. Dan partner saya pun wiraswasta. Jadi kami bisa bagi-bagi waktu dalam bekerja. Saat saya bekerja, maka dialah yang bersama anak saya, begitu pula sebaliknya.

Saya rasa setiap keluarga yang pihak ibu-nya bekerja punya solusi masing-masing soal anak yes? Nggak berarti begitu ibu bekerja maka anak jadi auto-terbengkalai. Ada yang menititpkannya pada orangtua/mertua. Ada yang mendaftarkannya ke daycare, ada yang meng-hire pengasuh khusus anak.

Semuanya ada positif dan negatifnya.

Biar fair, ini saya jabarkan positif dan negatifnya mengasuh anak sendiri walau pun bekerja.

Positifnya, yaaa, klise lah ya, saya bisa mendidik anak tepat dengan cara yang saya mau, hubungan batin saya dan anak dekat.

Nah, negatifnya jarang dibahas. Padahal cukup pelique juga.

Saya pribadi sebenarnya agak sedih karena kurang waktu untuk melakukan hobi. Hobi saya banyak. Saya juga suka ikut workshop yang berhubungan dengan craft. Pengin gitu ikutan workshop bikin jewelry kek, atau malem-malem ngegambar serius. Tapi waktunya nggak ada. Saya kerja, saat nggak kerja ya bersama anak. Saat malem, capek mau ngapa-ngapain juga. HAHASIAL.

Lalu capek, bosqu. Niat mau mendidik anak ala-ala Montessori dan segala metode apalah-apalah itu nggak selalu tereksekusi karena emaknya lelah.

Oh iya, balik lagi ke posting di tirto.id. Tau nggak sihhh, setelah dirunut-runut berbalas komentar di posting itu ternyataaa.... mereka-mereka yang kontra perempuan bekerja setelah punya anak itu.... belum kewong. HALAH! Bawel aja pade lu!

Senin, September 24, 2018

#Modyarhood Style : Sesudah dan Sebelum Punya Anak

 Just find what works for you, what style suits you best, and just be confident enough to rock it. - Odell Beckham, Jr.


...Sejujurnya, gelora dress up begitu besar dalam diri, tapi apa daya, kejadiannya selalu pergi buru-buru, bahkan kadang sampai nggak mandi.
 Ketemu lagi di #Modyarhood! Copy-paste lagi ya, siapa tau ada yang lupa, apaan sik, #Modyarhood ini.

Modyarhood adalah blogging project saya bareng Puty. Intinya kami berdua akan membuat blog-post dengan tema-tema seputar motherhood, dari sudut pandang kami berdua. Lalu, kami mau mengajak ibu-ibu blogger lainnya untuk posting tulisan dengan tema yang sama. Ya tujuannya sih untuk melihat banyak variasi sudut pandang soal menjadi ibu, agar wawasan kita terus bertambah. TSAH!

Anyway, topik-topik yang pernah kami angkat adalah : 

 5 Alasan Saya nggak Rajin Baca Parenting Books,  
Belajar Menjadi Ibu yang Waras dari GTM ,
Kencan Setelah Punya Anak,
Kerjaan Domestik : Sepele Tapi Bikin Senewen
Dari Sebel Jadi Kangen  
Beranteman Ala Anak-anak.
Bermain dan Permainan Anak-anak

Modyarhood kali ini masih berhadiah! Dan sponsor tunggal kami adalah : Minimons by Dinda Jou! Sila baca terus sampai bawah untuk lihat apa hadiahnya ya. Dan...


Tema sekarang adalah style sebelum dan sesudah punya anak. 


Waktu (((masih gadis))), saya suka mendengar rangorang bilang, kalau sudah punya anak, style penampilan seorang perempuan bakal berubah jadi lebih lusuh, karena nggak bakal sempet dandan, bisa sisiran aja sukur. Ya, seperti kata Puty, sudah ada stereotip yang mengikuti kata 'emak-emak', yaitu sosok perempuan berdaster dan pake rol. :))

Style saya kurleb sih chic-casual . Kalo lagi experimental, boho/hippies. Tapi yang jelas, saya itu Miss Aksesoris. Karena printilan aksesoris dan jewelry yang saya pakai itu banyak. Ya shawl, ya scarf, belt, belum gelang, cincin, anting. Zaman SD kalau ada yang pakai aksesoris banyak, ledekannya : elu mau buka toko? :D



Sekian dari sekian banyak foto OOTD di FB saya :D

Iya, saya doyan dandan, nggak pernah nggak dress up kalau keluar rumah (dan pasti jahit baju baru kalau ada kondangan).  Jadi waktu itu sih saya nggak bisa bayangin bakal tampil lusuh, apa lagi sampai dasteran dan pake rol. Lagian, saya juga nggak punya daster. Punyanya kaos lusuh dan celana pendek. #eh

Lagi pula, sahabat saya, teman sekantor saya, itu semacam mamak-mamak yang juga nggak dasteran. Jadi saya yakin kalau jadi mamak-mamak pasti akan tetap dress up.

Saya dan Ella, sahabat saya, seorang emak-emak.

Biasanya ekspektasi dan realita suka beda ya? Ekspektasi, style bolelah nggak berubah. Nah, realitanya?

Di hari pertama keluar rumah, seminggu setelah anak saya lahir, baju-baju masa gadis saya nggak bisa dipake! Karena saya kan lahirannya sectio, yes? Model-model baju saya ngepas-ngepas gitu, perih, kena bekas operasi. Plus, semuanya nggak ada yang ramah busui. Ya emang saya bego banget, nggak menyempatkan diri beli baju dan beha menyusui.

Saya keluar nggak pakai daster sih. Saya bukan #timTidurDasteran, ingat? Saya keluar rumah pake... piyama.

Apakah waktu itu insidentil doang? Enggak dong! Di hari-hari berikutnya saya nggak sempat dandan! Kejadiannya selalu begini :








Sejujurnya, gelora dress up begitu besar dalam diri, tapi apa daya, kejadiannya selalu pergi buru-buru, bahkan kadang sampai nggak mandi. Mau nyiapin baju malem-malem? Udah keburu lelah pengin tidur. Nasib #TimNggakPakeART.

 Jadi gimana style saya kurleb?

Gini

Nggak dasteran sik. Tapi....

Ke kantor pun, cuma lebih rapih dikit. Sisanya sama, celana panjang dan kemeja. Sneakers. Make up juga seadanya.

Jadi, bener dong, kalau punya anak bikin kita lusuh?

Nggak sih.  Saya nggak banyak dandan dan dress up sampai Lilo usia setahun! Lewat dari situ, bisaaa! YAY!

Kok bisa?

Kayaknya sih ini karena saya dan partner semakin piawai ngurus anak dan rumah tangga, jadi manajemen waktunya semakin baik, dan pembagian kerjanya juga semakin oke. Tanpa perlu diskusi banyak-banyak, kami tahu, kalau saya lagi ngapain dia harus ngapain.

Pas saya lagi masak, dia nemenin Lilo sambil beresin tempat tidur. Sarapan bareng. Begitu kelar, saya nyiapin Lilo sekaligus sambil mandi bareng, sementara partner beresin bekas masak dan sarapan lalu dia mandi. Setelah dia selesai, dia menggiring Lilo keluar rumah dan main sehingga saya bebas dandaaaaan.

Kami bisa melakukan segalanya jauh lebih efisien, dan keluar barengan. #soundswrong

Walau pun saya jadi sempat dress up, tapi ada sedikit perubahan sih dengan style. Saya merasa style saya lebih sederhana dan jauh lebih mementingkan kemudahan dalam nguber anak kenyamanan : no boots, no dress, no mini skirt, aksesoris/perhiasan secukupnya.


YAY! Dandan lagiii!
Jadi buibuk gimana soal gaya bergaya sebelum dan setelah punya anak? Apakah tidak berubah seperti Puty? Makin sederhana seperti saya? Atau tetap cetar? Cerita dong buuk! Pakein foto-foto biar seru!

  • Ibu-ibu silakan tulis cerita tentang style ini di blog masing-masing
  • Kemudian tinggalkan komen di blog saya mau pun Puty menuju URL ke postingan tersebut
  • Post foto di IG, tag saya di IG (@mamamolilo dan @byputy)
  • Deadline-nya 8 Oktober ya!
Ini dia profile sponsor kami dan hadiahnya.

MinimonsByDindajou: “The Soulful Scarf”

Setelah mengalami depresi yang meruntuhkan kepercayaan dirinya, Dinda Jouhana bertekad untuk kembali mencintai dirinya sendiri. Baginya, ini berarti berkarya. Membuat sesuatu yang berguna.

Minimons by Dindajou, adalah adalah hasil kerja penuh kasih dan perjuangannya untuk tetap positif dalam hidup. Scarf ini ia desain sendiri, dan dicetak secara digital pada bahan voile berkualitas tinggi.

Tidak hanya sebagai aksesoris multi fungsi yang dapat mengubah penampilan dalam sekejap,  scarf ini seolah menjadi penyampai pesan dari Dinda untuk para perempuan: bahwa mereka tidak sendiri. 

Pemenang 1 - Satu buah Square Scarf, satu buah Pashmina dan satu buah Mini Scarf + Aksesoris (Total seharga Rp 564.000)

Pemenang 2 - Satu buah Square Scarf dan satu buah Pashmina + Aksesoris (Total seharga Rp 484.000)

Pemenang 3 - Satu buah Square Scarf  + Aksesoris (Total seharga Rp 285.000)


Kamis, Agustus 16, 2018

#Modyarhood : Bermain, Antara Ekspektasi dan Realitasnya

HAI! NUNGGUIN MODYARHOOD NGGAAK?

Oh, enggak ya?

Biarin. Saya (dan Puty) tetep pengin nulis buat Modyarhood plus bagi-bagi hadiah buat buibuk semuanya.

YHA, h a d i a h.

Gimana, buibuk, sudah berubah pikiran jadi nungguin modyarhood? :))

Anyway, mungkin saking lamanya nggak ada seri Modyarhood di blog saya mau pun Puty, buibuk udah pada lupa kali ya, apa-apaan Modyarhood ini. Diulang aja kali ya : Modyarhood adalah blogging project saya bareng Puty. Intinya kami berdua akan membuat blog-post dengan tema-tema seputar motherhood, dari sudut pandang kami berdua. Lalu, kami mau mengajak ibu-ibu blogger lainnya untuk posting tulisan dengan tema yang sama. Ya tujuannya sih untuk melihat banyak variasi sudut pandang soal menjadi ibu, agar wawasan kita terus bertambah. TSAH!

Anyway, topik-topik yang pernah kami angkat adalah : 

 5 Alasan Saya nggak Rajin Baca Parenting Books,  
Belajar Menjadi Ibu yang Waras dari GTM ,
Kencan Setelah Punya Anak,
Kerjaan Domestik : Sepele Tapi Bikin Senewen
Dari Sebel Jadi Kangen  
Beranteman Ala Anak-anak.

Tema besar kali ini adalah tentang :

Mainan dan permainan anak-anak.

Sudut pandang atau mau cerita apanya sih, ya terserah buibuk sekalian ya. Lalu, hadiahnya dan cara ngedapetinnya gimana? Bakal ada di akhir tulisan ini ya, silakan dibaca dulu posting saya.




Toys are important, formative components in children's lives. They entertain as well as teach, and they may do both with positive and negative consequences. - Marge Cambre & Mark Hawkes, Tools & Teachers: The Challenges of Technology






Sebelum punya anak itu adalah waktu yang paling tepat untuk bercita-cita ideal ingin menerapkan pola asuh sesuai dengan teori parenting yang ada,. Karena, begitu anaknya ada, bubyar. HAHA. Mamam noh, teori dan ekspektasi.

Saya memercayai bahwa mainan dan bermain itu membuat anak-anak menggunakan kreativitas, sambil mengembangkan imajinasi, ketangkasan dan kekuatan fisik, kognitif dan emosional. Dulu, pas lagi hamil, saya sudah punya bayangan sendiri tentang kondisi bermain dengan anak saya. Mainannya ya mainan edukatif, melibatkan sensori, ala-ala Montessori gitu deh. Anak saya main dengan riang gembira bersama saya, dalam ruangan ala Scandinavian.

Ternyata, itu hanya ada di situs-situs image banks, karena pada kenyataannya, nggak demikian.

Jauh, sisss. Kayak dari BIP, ke Kopo. #HanyaOrangBandungYangPaham

Jadi, jadi apa saja sih realitas yang meleset dari ekspektasi saya tentang mainan dan permainan ini?


1. Lupakanlah idealisme pribadi dalam bermain, lupakan, lupakan, lupakan.
Buat saya, balon itu  nyampah. Umur dimainkannya cuma sebentar . Kalau mainan lain kan bisa dimainin lama, kalau anak sudah bosan pun masih bisa dikasihin. Nah, balon? Pecah atau kempes ya nggak bisa diapa-apain lagi

OOT, nih, makanya saya sebel banget sama event semacam kawinan yang pakai lepas balon. Bagusnya cuma sebentar, sudahnya nyampah. Dan nyampahnya entah di mana kan? Tergantung di mana balon-balon tersebut jatuh.

Selain balon, saya pun nggak demen sama mainan pasar, dengan alasan sama, dimainin sekali, terus rusak. Udah gitu, nggak jelas lagi keamanannya, pewarnanya apa, bahannya apa, tajam atau nggak.

Jadi sebelum punya anak nih, saya bercita-cita untuk nggak ngasih anak saya balon.

Masih aman sampai Lilo punya teman anak tetangga dan mereka main balon serta main mainan pasar yang merah kuning ijo gonjreng itu. Awalnya dia dihadiahi mobil-mobilan seharga seribu, kemudian...jadi keterusan.


2. Biarkan saja kreativitas anak dalam bermain, even ketika cara bermainnya tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Saya sih melihat, anak-anak itu punya imajinasi sendiri akan benda-benda yang ada di sekitarnya, termasuk mainannya. Lego yang seharusnya bisa dibangun jadi sesuatu, malah dijadikan sayuran dan buah-buahan buat main pasar-pasaran. Boneka dijadikan bola ditendang-tendang. Keping-keping puzzle dimandikan. Makanan diobok-obok dan diremas-remas, lalu diawur-awur, playsand  ditabur di karpet, bowl berisi waterbeads plus airnya dituang ke lantai. MAAAK!

Dulu-dulu saya suka gemes, pengin bilang 'Bukan gitu lhooo caranya...', beberapa alasannya karena berantakan. Ehehe. Namanya buibuk tanpa ART ya? Sensi sama yang berantakan-berantakan.

Tapi kalau saya kerap mengoreksi, jadinya saya mengatur dia dan mematikan kreativitasnya dong?

So, sekarang, bebaskan sajalah, bahkan seringnya saya ikutan nyebur juga dalam imajinasinya!

Soal beres-beres? Serahkan pada partner. #eh

Nggak ding, don't rich difficult people lah, jangan kayak orang susah, panggil GoClean!

3. Monkeys see, monkeys do. Kalau punya cita-cita anak suka aktivitas dan mainan tertentu, kasih contoh.

Saya dan partner percaya bahwa mainan dan permainan itu sebenarnya gender-free, jadi saya tidak pernah membatasi 'mainan/permainan cewek' dan 'mainan/permainan cowok', harapan kami sih, jenis mainan dan permainan yang dikenal dan disukainya luas.

Kenyataannya, ya nggak segitu luasnya juga. Mainan dan permainan yang disukainya ya ternyata sebatas yang dilihatnya dari bapak dan ibunya. Masak-masakan (karena melihat saya), menggambar (karena melihat saya dan partner), musik (karena lihat partner), baca buku (karena lihat saya dan partner), main skateboard  (partner).

Main bola? Saya dan partner enggak demen.
Mobil-mobilan? Enggak
Robot-robotan ? Enggak.

Lalu, saya dan partner ingin anak kami suka bermain di luar ruang. Buat partner nggak masalah, karena dia suka aktivitas luar ruangan. Sementara saya? Sebenarnya saya anak rumahan sih, introvert pula. Bayangan ketemu dengan tetangga, para nanny dan ngobrol basa-basi sejujurnya bikin saya senewen. Cuma, demi anak suka di luar ruangan, okeh, saya keluar!

4. Kadang, anak lebih tertarik pada hal-hal di luar mainannya. Biarkan sajalah.
Mainan setrikaan yang mirip asli, wooden pull out puzzle, miniatur dinosaurus-dinosaurusan bisa kalah dengan botol plastik air mineral, bubble wrap dan kotak tissue saudara-saudara. Mainan-mainan beli di toko itu kayaknya maksimal dimainin sejam, nah benda-benda keseharian lebih bisa menghisap konsentrasi anak saya, sampai berjam-jam. Dipukul-pukul, dipites-pites, dijadiin orang-orangan, entahlah apa lagi.

Lha, piye, sudah dibeliin so called mainan edukatif, kok ya milih botol plastik mainan? :))

Ya katanya sih, anak seringnya lebih tertarik pada tekstur, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan sensory. Yawiiiis. Tapi bagus jugalah, jadi modal bermain anak saya murah. :))

Oh selain hal-hal yang berhubungan dengan sensori, keikutsertaan saya dan partner dalam bermain juga penting untuk bikin anak saya main. Saya memerhatikan, kalau saya nggak excited bermain, dia bakal berhenti juga.

Jadi, buibuk punya cerita sendiri tentang bermain, mainan dan permainan anak-anak buibuk? Yuk tulis juga di blog. Dan seperti yang sudah saya sebutkan, ada hadiahnya lho! Ini diaa :

Freddie The Frog Shoes
Freddie the Frog ini dimulai dari akhir tahun 2009 oleh saya (Fanny) dan suami saya (Jimmy). mulai dari desain packaging, desain sepatu hingga distribusi dan produksi kami kelola sendiri. Untuk sekarang ini Freddie the Frog sudah mempunyai 4 mini-store di beberapa mal di Jakarta dan Surabaya. Selain itu kami juga sudah berhasil mendistribusikan sepatu kami ke Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Australia. Keunggulan produk kami selain model yang trendi, nyaman dipakai bayi juga bisa di-personalized nama baby atau tanggal lahir baby di telapaknya.

Jadi selain gaya bisa juga buat kenang-kenangan sampai besar nanti.

Selain sepatu prewalker, kami juga menjual berbagai aksesoris sepatu yang bisa di mix and match dengan sepatunya.

Berikut link about us di website kami : http://freddiethefrogshoes.com/about

Ini dia hadiahnya :






Zoetoys 
Bermula dari mengajak Si Kecil bermain dan belajar melalui sarana mainan edukatif, saya (Cynthia) memulai Zoetoys di October 2015, tujuannya untuk menginspirasi orang tua dalam mengedukasi anak usia dini, dengan memudahkan mencari dan mengetahui mainan yang cocok untuk usia anak-anak mereka.

Yang pastinya mainan-mainan edukasi yang bermutu dengan harga yang terjangkau. Buat orang tua yang mencari kado (secara suka banyak anak saudara dan teman yang ulang tahun) pun jadi tdk kebingungan karena banyak pilihan yang kami sediakan. Selain mainan edukasi anak, kami juga menyediakan buku untuk menunjang edukasi anak.

Sekarang ini Zoetoys sudah ada 5 karyawan yang membantu mengembangkan usaha ini. Dan sudah memiliki pelanggan tetap tidak hanya di dalam negeri, namun juga luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Australia.

Tagline kami
 "Learn Better with Playing"

Ini dia hadiahnya :



Cokelat Colatta 
Cokelat Colata merupakan seri produk cokelat, dari Gandum Mas Kencana.

 
Gimana cara ikutannya?

  1. Tulis blog post dengan tema ini di blog masing-masing
  2. Posting foto yang ngasih tau link posting-an buibuk dan tag/mention kami di Instagram. Jangan lupa kasih hashtag modyarhood ya?
  3. Tinggalkan komen dengan tautan ke posting buibuk di blog saya dan Puty
  4. Deadline-nya 31 Agustus 2018 yes?

Yuk ah, yuk ah!

Selasa, Juli 31, 2018

Guest Post : Mengapa Kami Memilih Homeschooling

Catatan dari saya :


Tulisan tentang homeschooling di bawah ini, bukan tulisan saya, tapi tulisan Dinda Jou, guest blogger pertama di blog ini.

Jadi, saya kenal Dinda ini sudah cukup lama ya, sekitar tahun 2005-an gitu kali ya? Awalnya yak arena sama-sama ngeblog. Dinda ini adalah jurnalis, blogger dan traveler saat itu. Nggak disangkat ternyata teman-teman kami beririsan juga. Ketemu Dinda pertama kali pas konsernya Anggun, di Bandung!

Kemudian kami nggak pernah kontak-kontakan lagi, Cuma sesekali saya melihat (melalui media sosial), oh Dinda nerbitin buku foto, oh Dinda punya anak. Oh, ternyata Dinda itu sepupuan sama teman kantor saya. Deuh, lagi-lagi beririsan.

Nah kemarin, dalam rangka menggalakkan semangat ngeblog, saya bikin project guest blogging, kemudian Dinda nyahut. Ya udah, atas nama reuni, saya ajak Dinda untuk cross-posting di blog saya.  Waktu kontak-kontakan soal tema kemarin, ternyata kami semacam berjodoh gitu. Dinda pengin mengangkat tema gender dalam membesarkan anak, sementara saya lagi penasaran berat soal homeschooling. Nah kebetulan Dinda baru saja memutuskan untuk homeschooling dalam mendidik Malik, putranya. Pas. :))





...setiap anak harus dibekali life skill yang memadai, kemampuan menganalisa yang cukup, attitude yang baik, serta pemikiran bahwa belajar bisa dari apa saja dan dimana saja..
Setelah dua tahun menimbang-nimbang, akhirnya aku dan suami memutuskan untuk memilih homeschooling untuk mendidik Malik, anak kami satu-satunya yang kini berumur 4,5 tahun. Malik, akan menjadi anak pertama yang menjalankan homeschooling di keluarga besar kami.

Keputusan ini dibuat saat awal tahun ajaran baru kemarin, karena melihat teman-teman sepermainan Malik yang sebaya, sudah mulai masuk sekolah semua. Saat kami mencetuskan keputusan itu, ada banyak orang di sekeliling kami yang merespon. Utamanya sih bertanya soal mengapa. Apa yang menyebabkan kami ‘se-idealis’ itu (untuk tidak menyebut nekat, hihih!) memilih homeschooling? Lalu, tentu saja bertanya soal prakteknya bagaimana, kurikulumnya seperti apa, plus minusnya, dan lain sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan ini wajar banget. Dulu, saat pertama mendengar soal homeschooling, aku juga punya segudang pertanyaan. Soalnya sebelum itu, aku taunya yang homeschool itu kan artis atau atlit ya. Masak rakyat jelata macam aku bisa homeschooling juga sih?

Sebenarnya ada banyak aspek homeschooling yang semestinya dibahas terlebih dulu sebelum kami sampai pada jawaban mengapa milih homeschooling. Tapiiii… karena penjelasannya bisa panjang banget, aku ceritakan aja perjalanan kami sampai akhirnya memutuskan ya. 

Jadi begini sodara-sodara. Kalau mau jujur sejujur-jujurnya, aku dan suami itu sesungguhnya ‘takut’ untuk punya anak. Membayangkan punya tanggung jawab yang super berat untuk MENDIDIK seorang anak manusia itu sungguh membuat keder. Bok, pelihara kaktus aja mati!

Nah, saat Malik lahir, kami jadi banyak merenung dan berdiskusi tentang ide-ide kami menjadi orang tua yang baik. Kami membaca banyak buku referensi, salah satunya adalah buku-buku Ayah Edi, yang beberapa kali menyebutkan perkara homeschooling. Dari lihat-lihat sekilas, kok kayaknya seru ya?

Dari yang hanya sekedar ide, pencarian berlanjut dan tiga tahun lalu aku menemukan sekeluarga prakstisi homeschooling yang aktif berbagi. Rumah Inspirasi (link: www.rumahinspirasi.com) namanya. Keluarga ini memberikan webinar soal seluk beluk homeschooling yang segera saja aku ikuti. Dari webinar sepuluh sesi itu (link: http://dindajou.com/review-webinar-homeschooling-oleh-rumah-inspirasi/ ), aku dan suami belajar banyak sekali. Tidak hanya soal homeschooling, tapi soal menjadi orang tua secara umum. Webinar itu meluaskan pandangan kami tentang bagaimana mendidik anak. Aku sangat merekomendasikan webinar ini untuk siapapun yang ingin belajar menjadi orang tua yang lebih baik.

Jadi, homeschooling itu sebenernya apa sih?
Nah, homeshooling adalah pendidikan berbasis keluarga yang berpusat di rumah. Kegiatan pendidikannya diselenggarakan oleh orang tua yang disebut praktisi homeschooling. Materi belajar juga dibebaskan kepada orang tua, yang disesuaikan dengan VISI MISI pendidikan keluarga masing-masing. Waktu dan tempat belajar pun bisa di mana saja. Pokoknya fleksibel banget!

Mau anaknya diarahkan jadi artist, silahkan. Jadi ahli agama, tentu boleh. Mau jadi entrepreneur, hayuk aja. Nggak perlu takut kalau orang tua nggak bisa ngajarin suatu bidang. Orang tua bisa hanya menjadi fasilitator, membantu anak mencari sumber daya lain untuk mengajari. Bahkan, salah satu tujuan dalam homeschool adalah, pada akhirnya anak bisa jadi pembelajar mandiri. Ia tau harus mencari kemana kalau ingin mempelajari sesuatu hal.

Kalau selain mendalami minat dan bakatnya anak homeschooler ini juga mau punya ijazah, bisa ikut ujian persamaan paket A, B atau C (setara SD, SMP, SMA), yang diselenggarakan Diknas. Anaknya bisa ikutan bimbel intensif menjelang ujian kan? Apalagi ijazah paket ini juga diterima untuk masuk universitas dalam negeri manapun. Atau, kalau mau sekolah di luar negeri, bisa pakai kurikulum luar seperti Cambridge dll yang juga ada tesnya.

Terlihat gampang ya? Hehehe… gampang-gampang susah sih. Susahnya terutama bagian membuat visi-misi pendidikannya. Dari sekian banyak pilihan, anaknya mau diarahin kemana nih? Untuk membuat visi misi pendidikan ini, tentunya orang tua harus seiya-sekata, dan benar-benar berkontemplasi mempertimbangkan segala sesuatunya (belum lagi kalau punya pasangan yang ngeyel ya kak!). Beraaattt…

Selain itu, dalam homeschool, peran orang tua sangat besar. Fungsi orang tua sebenernya lebih mirip kepala sekolah: membuat kebijakan, mengorganisir sumber daya yang ada, juga mengevaluasi perkembangan anak. Jadi, memang dibutuhkan waktu, tenaga dan komitmen yang besar dari orang tua jika memilih ber-homeschool-ria. Sebab, anak kan nggak serta merta bisa menjadi pembelajar mandiri kalau nggak diajarin sejak dini. Jadi dalam penyelenggaraan homeshool ini, anak dan orang tua akan terus terusan belajar, bersama-sama.

Lalu, kok kami tetap berani memilih homeschool?
Yah, tiap keluarga pasti memiliki kondisi yang berbeda-beda. Bagi kami, ada berbagai alasan, mulai dari yang praktis sampai yang idealis. Alasan praktis terbesar adalah karena jadwal kerja suamiku. Sebagai geophysicist yang bekerja untuk sebuah oil service company, suamiku bekerja nun jauh di sana selama 7 minggu, dan setelahnya mendapatkan cuti selama 5 minggu. Saat cuti, ia sama sekali tak bekerja dan kami hampir selalu mengagendakan travelling. Dua manusia cetek ini khawatir kalau anaknya sekolah, maka urusan jalan-jalan ini bisa terganggu, ahahhaha! 

Selain itu, biaya pendidikan saat ini tuh MAHAL gilak! Ngacung deh, siapa yang bergidik melihat angka rupiah di brosur sekolah. Bisa delapan bahkan sembilan digit! Dan untuk apa sebenarnya? Banyak anak lulus sekolah, masih tidak tau mereka mau ngapain.

Kalau merujuk pada pengalaman diri sendiri, aku memang lulusan Komunikasi/jurnalistik. Aku sempat menjadi wartawan selama satu dekade, mulai dari koran lokal hingga internasional, sebelum akhirnya pension dan menjadi ibu rumah tangga sekalian membuka bisnis. Tapi, sesunguhnya kontribusi sekolah minim sekali pada perkembanganku. Aku mempelajari skill menulis justru dari organisasi pers kampus. Aku belajar fotografi dari kursus. Dan baru-baru ini belajar desain dari website belajar seperti Lynda dan Coursera, dan yutub, pastinya!

Suamiku malah lebih ‘parah’ lagi. Kalau aku bilang dia adalah lulusan salah satu kampus negeri di Bandung, kalian pasti mengira dia anak ITB. Salah besar sodara! Dia lulusan Sosiologi di STKS, di Dago Atas situ. Lah? Bisa kerja jadi geophysicist di luar negeri pula? Bisa! Ia memulainya dari bawah sekali dan belajar seiring waktu hingga bisa jadi seperti sekarang.

Dan yang paling ‘meresahkan’, melihat trend saat ini, di masa depan akan ada banyak sekali pekerjaan-pekerjaan baru untuk generasi setelah kita, yang bahkan saat ini belum terpikir. Sekolah, menurutku, punya struktur yang terlalu kaku dan sulit mengejar dunia yang berputar semakin cepat ini. Aku adalah penganut paham bahwa setiap anak adalah unik. Bagaimana mengajarkan soal keunikan ini jika di sekolah semua terstandardisasi?

Aku lebih setuju bahwa setiap anak harus dibekali life skill yang memadai, kemampuan menganalisa yang cukup, attitude yang baik, serta pemikiran bahwa belajar bisa dari apa saja dan dimana saja. Aku juga ingin anakku belajar nilai-nilai agama sesuai dengan yang aku yakini. Tentunya sulit sekali mencari sekolah yang mengajarkan semua hal tersebut sekaligus. Kebanyakan sekolah menitik beratkan pada kemampuan akademis.

Akhirnya, ya sudah, homeschooling saja. Dengan begitu, kami sebagai orang tua bisa mengatur sendiri pendidikan model apa yang ingin kami berikan kepada Malik.

Untuk saat ini, dimana Malik masih usia pra-sekolah, tentunya kami masih berkutat pada hal-hal yang sangat dasar yang bisa dijadikan modal belajar saat ia besar nanti. Kami berfokus pada membangun kebiasaan baik, memaparkannya pada berbagai hal dan membiarkan dia mengekplorasi apapun. Kami menyediakan diri untuk belajar dan berproses bersama Malik, sambil terus mengevaluasi diri. Doakan kami yaaa!